Kabarindo24jam.com | Lebanon – Ketegangan di perbatasan selatan Lebanon kembali memuncak setelah jet-jet tempur Israel menggempur sejumlah titik pada Kamis (27/11). Serangan terbaru ini terjadi tepat setahun setelah gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat dijanjikan sebagai akhir konflik berkepanjangan.
Menurut laporan National News Agency (NNA), serangan udara itu menghantam Al-Mahmoudieh dan Al-Jarmaq di dekat Jezzine. Seorang pejabat intelijen Lebanon menyebut Israel menembakkan 18 rudal udara-ke-darat ke bekas posisi Hizbullah, memicu kebakaran hutan dan getaran kuat yang terasa hingga wilayah Nabatieh.
Pada hari yang sama, pasukan Israel dilaporkan menembaki petani di sekitar Al-Wazzani dengan senapan mesin. Tidak ada korban luka, namun insiden itu semakin menegaskan rapuhnya ketenangan yang disebut-sebut lahir dari perjanjian 27 November 2024 — kesepakatan yang dinilai warga hanya “simbolis”.
Meski perjanjian menuntut penarikan penuh pada Februari, Israel tetap mempertahankan lima posisi pertahanan di sepanjang perbatasan. Israel beralasan langkah itu dibutuhkan untuk menetralkan ancaman Hizbullah. Namun, kehadiran militer ini membuat tentara Lebanon tidak bisa sepenuhnya menempati Garis Biru yang ditetapkan PBB.
Dampak kemanusiaan juga terus memburuk. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 339 warga tewas dan 978 luka-luka sejak gencatan senjata diberlakukan. UNICEF menyebut 13 anak termasuk di antara korban jiwa. Sumber keamanan Lebanon menambahkan bahwa Israel telah melakukan lebih dari 5.000 pelanggaran darat, laut, dan udara dalam setahun terakhir.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa tanpa jaminan internasional yang lebih kuat dan nyata,eskalasi harian ini dapat berubah menjadi perang besar yang menyeret Beirut dan wilayah timur Lebanon. Konflik yang semestinya mereda justru kembali menguat, memperlihatkan betapa rentannya perdamaian di perbatasan.
Pelanggaran paling serius terjadi Minggu (23/11), ketika Israel mengebom pinggiran selatan Beirut—serangan yang jarang terjadi sejak kesepakatan gencatan senjata. Lima orang tewas dan 28 luka-luka. Di antara korban tewas itu terdapat Haytham Ali Al-Tabtabi, komandan senior Hizbullah yang disebut Israel sebagai kepala staf militer kelompok tersebut.(Man*/)

