Kabarindo24jam.com | Banda Aceh — Pemerintah Aceh menetapkan status tanggap darurat setelah banjir dan longsor meluas di berbagai wilayah. Kebijakan ini diumumkan Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem, menyusul situasi yang semakin memburuk dan meningkatnya laporan kerusakan serta korban jiwa.
“Hari ini, saya Gubernur Aceh menetapkan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh 2025,” kata Mualem di Banda Aceh. Status darurat ini berlaku selama 14 hari, mulai 28 November hingga 11 Desember 2025, guna mempercepat mobilisasi logistik, evakuasi, serta koordinasi lintas instansi.
Bencana hidrometeorologi mulai terjadi sejak 19 November di Aceh Singkil dan kemudian menyebar luas akibat hujan intensitas tinggi, angin kencang, dan kondisi tanah yang labil. Hingga pukul 16.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat bencana telah melanda 16 kabupaten/kota, termasuk Pidie, Aceh Besar, Aceh Tamiang, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, hingga Aceh Selatan.
Dampaknya sangat besar: 119.988 jiwa terdampak, dan lebih dari 20 ribu warga terpaksa mengungsi. Sementara itu, jumlah korban meninggal mencapai 22 orang dari empat kabupaten berbeda.
Bencana longsor membuat dua kabupaten, Aceh Tengah dan Bener Meriah, benar-benar terisolasi. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyebut seluruh akses utama tertutup material longsor.
“Kawasan Merie Satu Satu, Jamur Ujung, hingga Gunung Salak tidak bisa dilewati. Dari Takengon ke Blangkejeren juga tertutup di wilayah Isak,” ujarnya. Ia menambahkan, jalur Rusep–Pame menuju Pidie, serta titik di Nagan Raya, juga lumpuh total. “Aceh Tengah hari ini betul-betul terkepung,” kata Haili Yoga.
Pemerintah Aceh menginstruksikan seluruh personel Tagana di kabupaten/kota meningkatkan kesiapsiagaan. Plt Kepala Dinas Sosial Aceh, Chaidir, menegaskan Tagana harus memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi tanpa menunggu lama.
“Seluruh jajaran Tagana harus siap siaga 24 jam. Pastikan masyarakat terdampak tertangani cepat, terutama sandang dan pangan,” tegasnya.
Pemulihan Listrik dan Telekomunikasi Dikebut
Perbaikan infrastruktur vital terus dilakukan. PLN UID Aceh membangun lima tower listrik darurat untuk mengembalikan pasokan listrik setelah 12 tower SUTT 150 kV rusak, sembilan di antaranya roboh akibat banjir.
“Kami melakukan percepatan pemulihan sistem kelistrikan,” kata General Manager PLN UID Aceh, Eddi Saputra.
Sementara itu, Telkom Group juga tengah menormalkan kembali layanan telekomunikasi. Kerusakan terjadi pada STO, jaringan fiber optic, tower, dan BTS. Tercatat 14 STO di Aceh dan 9 di Sumatera Utara terdampak, menyebabkan blackout di sejumlah lokasi.
“Telkom Group berkomitmen memulihkan seluruh layanan secepat mungkin,” ujar EVP Telkom Regional Sumatera, Dwi Pratomo Juniarto.
Ratusan Warga Dievakuasi, Ketinggian Air Terus Bertambah
Prajurit TNI dari Koramil 19/Sawang dan Yon Arhanud 5/CSBY mengevakuasi warga di Aceh Utara menggunakan perahu karet. Total 104 kepala keluarga dari dua desa dipindahkan ke masjid dan mushala.
Basarnas bersama tim gabungan juga mengevakuasi 140 warga dari berbagai titik banjir. “Sekitar 90 orang dievakuasi dari Meunasah Tuha di Pidie Jaya, dan 50 lainnya dari Desa Cureh di Bireuen,” demikian laporan tim penyelamat.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh masih berlangsung dan berpotensi bertambah. Pemerintah daerah meminta masyarakat tetap waspada, mengikuti arahan aparat, dan segera melapor jika membutuhkan bantuan darurat. (Man*/)

