Kabarindo24jam.com | WASHINGTON, AS —Trump: Iran Punya Waktu 10 Hari untuk Capai Kesepakatan Nuklir — Diplomasi Presiden Donald Trump pada 19 Februari 2026 di Washington, D.C., mengeluarkan peringatan keras kepada Iran bahwa negara itu harus mencapai “kesepakatan.
Bermakna” mengenai program nuklirnya dalam waktu sekitar 10 hingga 15 hari, atau “hal-hal buruk” bisa terjadi — sebuah ungkapan yang menggambarkan potensi eskalasi tegas dari Amerika Serikat.
Dalam pidatonya di pertemuan inaugural “Board of Peace”, Trump mengatakan:
“Kita harus membuat kesepakatan yang bermakna. Jika tidak, hal-hal buruk terjadi… Kita akan melihat apa yang terjadi dalam sekitar 10 hari.”
Trump menggarisbawahi bahwa U.S. tidak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir karena, menurutnya, “tidak ada perdamaian di Timur Tengah jika mereka memiliki senjata nuklir.”
Ancaman ini muncul di tengah penumpukan besar kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk penempatan kelompok kapal induk dan jet tempur, yang memicu kekhawatiran konflik lebih luas.
Negara-negara tetangga dan sekutu seperti Israel juga bersikap keras — dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup pembongkaran infrastruktur nuklir Iran, bukan sekadar menghentikan pengayaan uranium.
Sementara itu, Russia memperingatkan kemungkinan eskalasi “tanpa preseden” akibat operasi militer besar di sekitar Iran dan menyerukan pengekangan. Perundingan Nuklir Saat Ini
Negosiasi nuklir antara AS dan Iran masih berlangsung melalui jalur tak langsung, termasuk melalui mediasi pihak ketiga seperti Oman. Dalam putaran pembicaraan terbaru di Jenewa pada 17 Februari 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kedua pihak mencapai “kesepakatan pada prinsip-prinsip panduan”, meski banyak detail krusial masih belum ditetapkan.
Iran diharapkan mengajukan proposal tertulis dalam waktu mendatang untuk menutup kesenjangan tersebut.
Teheran sendiri menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan menolak sebagian tuntutan AS, khususnya batasan terhadap kemampuan pengayaan uranium dan pengembangan rudal balistik.
Para analis mengatakan bahwa ultimatum Trump mencerminkan kombinasi tekanan diplomatik dan militer dengan tujuan mempercepat diplomasi sambil menyiapkan opsi lain jika pembicaraan gagal. Deployment militer yang besar, termasuk kapal induk dan serangan udara sebelumnya yang sebagian besar telah melemahkan fasilitas nuklir Iran, meningkatkan kemungkinan konfrontasi.
Sejumlah negara Eropa dan anggota parlemen di AS juga mempertimbangkan langkah legislatif untuk membatasi kewenangan Presiden dalam melancarkan serangan tanpa persetujuan kongres, mencerminkan kekhawatiran terhadap eskalasi militer.
Meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran telah memengaruhi pasar internasional. Misalnya, harga minyak dunia sempat menanjak ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir karena kekhawatiran investor terhadap potensi konflik di kawasan penghasil minyak utama ini.
(Ls/*)





