Kabarindo24jam.com | Jakarta – Krisis pangan akut terus memburuk di Sudan dan Republik Demokratik Kongo (DRC), dengan puluhan juta warga menghadapi kekurangan makanan serius.
Kondisi ini mendorong meningkatnya ketergantungan pada bantuan kemanusiaan, termasuk antrean distribusi pangan yang banyak melibatkan anak-anak di wilayah terdampak.
Berdasarkan data terbaru lembaga internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kedua negara menghadapi situasi darurat yang dipicu kombinasi konflik berkepanjangan, pengungsian massal, serta tekanan ekonomi.
Situasi di Sudan disebut sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk saat ini. PBB melaporkan lebih dari 21 juta orang mengalami kerawanan pangan akut, sementara sekitar 9,3 juta orang mengungsi di dalam negeri akibat konflik bersenjata yang berkepanjangan.
Security Phase Classification (IPC) menunjukkan bahwa beberapa wilayah, terutama di Darfur dan Kordofan, telah mencapai atau berisiko mencapai kondisi kelaparan (famine).
IPC Organisasi kemanusiaan juga memperingatkan bahwa kelaparan semakin meluas di daerah yang sulit dijangkau bantuan akibat konflik dan pembatasan akses. Kondisi ini berdampak langsung pada masyarakat sipil, terutama anak-anak, yang banyak terlihat mengantre bantuan makanan di kamp pengungsian maupun pusat distribusi pangan.
Di Republik Demokratik Kongo, krisis pangan bersifat kronis dan terus memburuk, terutama di wilayah timur yang dilanda konflik.
Data IPC terbaru menunjukkan sekitar 26,6 juta orang (sekitar 22% populasi) diperkirakan menghadapi krisis pangan tingkat tinggi (fase 3 atau lebih) pada periode awal 2026. Beberapa wilayah seperti Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Ituri bahkan berada pada tingkat darurat (fase 4), ditandai dengan kekurangan pangan parah dan meningkatnya malnutrisi.
Konflik bersenjata yang berkelanjutan telah menyebabkan lebih dari 5 juta orang mengungsi, mengganggu aktivitas pertanian, distribusi pangan, serta akses bantuan kemanusiaan.
Penyebab Utama Krisis
Sejumlah faktor utama yang mendorong krisis pangan di kedua negara.
Di Sudan, konflik internal menyebabkan runtuhnya infrastruktur ekonomi, sementara di DRC konflik milisi menghambat aktivitas pertanian. Jutaan warga kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan, sehingga bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan.
Pertanian terganggu akibat konflik, banjir, serta musim paceklik, yang mengurangi ketersedian makanan. Inflasi pangan, lemahnya mata uang, dan terbatasnya lapangan kerja menurunkan daya beli masyarakat. Badan kemanusiaan menghadapi kekurangan pendanaan, yang berpotensi mengurangi distribusi bantuan di lapangan.
Kemiskinan dan Kondisi Ekonomi
Kedua negara termasuk dalam kategori negara dengan tingkat kemiskinan tinggi di dunia.
Sudan mengalami ekonomi kontraksi tajam akibat konflik, dengan sistem layanan dasar seperti kesehatan dan distribusi pangan terganggu.
DRC meskipun kaya sumber daya alam, sebagian besar penduduk hidup dalam kemiskinan akibat konflik berkepanjangan, lemahnya infrastruktur, dan ketimpangan ekonomi.
Tingkat korupsi yang tinggi di kedua negara juga dinilai memperburuk tata kelola dan distribusi sumber daya, termasuk bantuan kemanusiaan Krisis pangan di Sudan dan Republik Demokratik Kongo menunjukkan tingkat keparahan yang tinggi dan berpotensi memburuk tanpa intervensi signifikan.
Sudan menghadapi risiko kelaparan luas akibat konflik yang terus berlangsung, sementara DRC mengalami krisis kronis yang diperparah oleh konflik regional dan kemiskinan struktural.
Dalam kedua kasus, anak-anak menjadi kelompok paling rentan, dengan meningkatnya ketergantungan pada bantuan pangan sebagai sumber utama bertahan hidup.
(Ls/*)
Sumber:
IPC (Integrated Food Security Phase Classification) laporan 2025–2026
Perserikatan Bangsa-Bangsa WHO
Snapshot IPC Afrika Selatan (Maret 2026)
IPC Alert Sudan (Februari 2026).







