Kabarindo24jam.com |Jakarta, 15 Juni 2026 – Fase grup Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan rangkaian pertandingan dengan cerita berbeda: duel sengit, pesta gol, hingga kemenangan yang ditentukan pada menit akhir.
Tiga laga yang menjadi sorotan adalah pertemuan Jepang kontra Belanda, Swedia melawan Tunisia, serta Pantai Gading menghadapi Ekuador.
Laga Grup F antara Belanda dan Jepang berakhir imbang 2-2 dalam pertandingan yang berlangsung intens hingga menit-menit akhir.
Belanda sempat dua kali unggul, namun Jepang menunjukkan respons cepat dan menjaga ritme permainan hingga akhirnya mencetak gol penyeimbang pada fase akhir pertandingan.
Hasil ini membuat persaingan Grup F tetap terbuka sejak laga pertama.
Jepang tampil disiplin dalam transisi dan konsisten menjaga tekanan saat tertinggal.
Dari sisi hasil, satu poin menjadi modal penting untuk menjaga peluang lolos ke fase berikutnya.
Di pertandingan lain Grup F, Swedia tampil dominan saat menundukkan Tunisia dengan skor telak 5-1.
Penampilan kolektif tim Eropa tersebut menjadi salah satu kemenangan terbesar mereka di panggung Piala Dunia dalam beberapa dekade terakhir.
Dua gol Yasin Ayari, ditambah kontribusi lini depan yang efektif, membawa Swedia langsung memuncaki klasemen sementara grup berdasarkan selisih gol.
Sementara itu dari Grup E, Pantai Gading mengamankan kemenangan tipis namun penting atas Ekuador dengan skor 1-0. Pertandingan berlangsung terbuka dan kedua tim memiliki peluang berbahaya, termasuk beberapa tembakan yang membentur mistar.
Gol penentu baru lahir pada menit ke-90 melalui penyelesaian akhir Amad Diallo yang memastikan tiga poin untuk wakil Afrika tersebut.
Bukan hanya aksi di lapangan yang mencuri perhatian. Pada laga Jepang, budaya suporter Samurai Biru kembali menjadi sorotan internasional. Kelompok pendukung Jepang dikenal luas memiliki kebiasaan membersihkan area tribun setelah pertandingan selesai, termasuk mengumpulkan sampah dan meninggalkan area dalam kondisi rapi.
Tradisi tersebut telah beberapa kali mendapat perhatian pada turnamen-turnamen besar sebelumnya dan kembali menjadi simbol budaya sportivitas serta tanggung jawab bersama di ruang publik.
Praktik ini dilakukan secara sukarela dan kerap dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada penyelenggara, petugas stadion, serta sesama penonton.
(Ls/*)







