Kabarindo24jam.com | KYIV – Serangkaian serangan udara Rusia dalam beberapa hari terakhir kembali mengganggu aktivitas di Kyiv dan sejumlah wilayah Ukraina. Serangan dilaporkan berdampak pada infrastruktur transportasi dan energi, sementara pemerintah Ukraina bersiap menghadapi meningkatnya tekanan terhadap sistem energi menjelang musim dingin 2026–2027.
klaim yang beredar di media sosial mengenai terjadinya “eksodus massal” warga Kyiv menuju negara-negara Eropa belum didukung oleh data perlintasan perbatasan terbaru.
Data Dinas Penjaga Perbatasan Ukraina untuk periode 19 September hingga 2 Oktober 2026 menunjukkan sekitar 265.000 perlintasan keluar melalui perbatasan barat Ukraina, sementara perlintasan masuk mencapai sekitar 271.000.
Dengan demikian, arus keluar dan masuk masih relatif berimbang.
Serangan terhadap Kyiv Mengganggu Transportasi Serangan udara Rusia pada awal Oktober menyebabkan sejumlah jembatan yang menghubungkan bagian-bagian Kyiv di kedua sisi Sungai Dnipro mengalami gangguan.
Pada 2 Oktober bahwa serangan udara Rusia kembali menghantam jembatan di Kyiv, setelah serangkaian serangan sebelumnya menyebabkan lalu lintas di beberapa jembatan dihentikan seluruhnya atau sebagian. Pada 3 Oktober, Northern Bridge juga dilaporkan mengalami kerusakan. Serangan tersebut menambah gangguan lalu lintas di ibu kota Ukraina. Bahwa tiga dari enam jembatan jalan utama Kyiv di atas Dnipro sebelumnya telah mengalami penutupan penuh atau sebagian akibat serangan.
Serangan terbaru juga dilaporkan menimbulkan korban sipil di beberapa wilayah Ukraina. Sedikitnya enam orang tewas dalam rangkaian serangan terbaru, termasuk korban di Kharkiv dan wilayah lain.
Ukraina Volodymyr Zelensky dalam wawancara dengan Reuters pada 3 Oktober mengatakan bahwa badan intelijen Ukraina memperoleh dokumen yang menurut Kyiv menunjukkan adanya perubahan doktrin serangan Rusia. Menurut Zelensky, dokumen tersebut mengindikasikan perluasan sasaran serangan terhadap infrastruktur, logistik, jalan, sekolah dan rumah sakit.
Ia juga menyatakan bahwa tekanan terhadap penduduk Kyiv dan kota-kota Ukraina lainnya merupakan salah satu tujuan operasi tersebut.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian pemerintah Ukraina yang bersumber dari intelijen Ukraina dan tidak dapat diperlakukan sebagai bukti independen bahwa Rusia telah memberikan “izin terbuka untuk menyerang apa saja” di Ukraina.
Rusia sendiri menyatakan bahwa serangan yang dilakukannya merupakan tindakan balasan terhadap serangan Ukraina dan mengatakan akan melanjutkan serangan terhadap target di Ukraina. Moskow juga mengeluarkan peringatan kepada warga asing dan staf diplomatik agar tidak berada di Ukraina.
Data terbaru mengenai lalu lintas perbatasan justru belum menunjukkan lonjakan eksodus baru yang sesuai dengan gambaran “penduduk Kyiv berbondong-bondong meninggalkan kota”.
Menurut data Dinas Penjaga Perbatasan Ukraina yang dihimpun hingga 2 Oktober, dalam dua pekan terakhir terdapat sekitar 536.000 perlintasan melalui perbatasan barat, terdiri dari sekitar 265.000 perjalanan keluar dan 271.000 perjalanan masuk. Jumlah keseluruhan tersebut bahkan turun sekitar 14,5 persen dibanding periode dua pekan sebelumnya.
Angka perlintasan perbatasan merupakan jumlah perjalanan, bukan jumlah individu unik. Karena itu, data tersebut tidak dapat digunakan untuk menghitung secara langsung berapa orang yang benar-benar pindah atau menetap di luar Ukraina.
Serangan besar pada akhir September dilaporkan menyebabkan gangguan listrik dan pemadaman darurat di Kyiv serta sejumlah wilayah lain. Infrastruktur energi dan fasilitas penting menjadi sasaran dalam kampanye serangan terbaru Rusia.
Pemerintah Ukraina memasuki musim pemanasan 2026–2027 dengan tambahan kapasitas pembangkitan, cadangan gas yang lebih besar, perlindungan infrastruktur dan peralatan cadangan, meskipun serangan terhadap sektor energi dan infrastruktur digital terus meningkat.
Dengan demikian, risiko gangguan energi selama musim dingin merupakan persoalan nyata, tetapi klaim bahwa “musim dingin yang sangat keras pasti akan datang” belum dapat dipastikan secara faktual. Kondisi cuaca musim dingin tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan intensitas serangan militer.
Perkembangan terbaru pada 4 Oktober menunjukkan konflik tetap berlangsung sekaligus diikuti peningkatan dukungan negara-negara Eropa terhadap Ukraina.
Kanselir Jerman Friedrich Merz tiba di Kyiv pada Minggu, 4 Oktober, dalam kunjungan yang antara lain membahas kerja sama produksi drone dan dukungan terhadap sektor energi Ukraina.
Pemerintah Jerman menyatakan akan menyediakan paket sekitar 1 miliar euro untuk bantuan militer dan 350 juta euro untuk perbaikan sektor energi. Kerja sama pertahanan juga mencakup produksi berbagai jenis drone dan pengembangan sistem pertahanan udara.
(Ls/*)







