Kabarindo24jam.com | Jakarta – Infrastruktur energi yang dibangun sejak 1980-an kini beroperasi mendekati kapasitas penuh untuk menjaga ekspor minyak dunia.
Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia mendorong Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui jalur darat menuju Laut Merah.
Langkah ini memanfaatkan East–West Crude Oil Pipeline-pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang melintasi gurun dari wilayah produksi di timur Saudi menuju pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.
Pipeline tersebut dibangun pada awal 1980-an sebagai jalur alternatif untuk menghindari risiko gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Pipa itu menghubungkan ladang minyak utama di kawasan timur Saudi dengan terminal ekspor di Yanbu, sehingga tanker dapat memuat minyak tanpa harus melewati Teluk Persia.
Penggunaan jalur darat ini kembali meningkat sejak krisis keamanan di Selat Hormuz pada akhir Februari 2026, ketika konflik regional memicu gangguan serius terhadap pelayaran minyak global. Selat tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasokan energi dan harga minyak internasional.
Perusahaan energi nasional Saudi, Saudi Aramco, mulai mengalihkan sebagian ekspor minyaknya ke pelabuhan Yanbu melalui pipeline tersebut. Data pengiriman menunjukkan volume ekspor dari Laut Merah meningkat signifikan pada awal Maret, seiring upaya Riyadh menjaga kelancaran distribusi minyak ke pasar global.
Secara teknis, pipa East-West memiliki kapasitas normal sekitar 5 juta barel per hari, namun dapat ditingkatkan hingga sekitar 7 juta barel per hari ketika jalur pendukung dikonversi untuk membawa minyak mentah.
Kapasitas maksimum ini dilaporkan mulai dimanfaatkan pada Maret 2026 setelah pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu.
Meski demikian, analis energi menilai pipeline tersebut hanya mampu menggantikan sebagian aliran minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz. Sebelum krisis, sebagian besar ekspor minyak Saudi—lebih dari lima juta barel per hari—masih dikirim melalui pelabuhan Teluk Persia.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas pengapalan di pelabuhan Yanbu juga meningkat tajam. Data pelacakan kapal menunjukkan puluhan tanker raksasa menunggu giliran memuat minyak di Laut Merah, menandakan meningkatnya peran jalur alternatif tersebut dalam menjaga pasokan energi global.
Para pengamat energi menilai keberadaan pipeline lintas gurun ini menjadi salah satu infrastruktur strategis paling penting bagi Arab Saudi saat terjadi krisis regional. Namun mereka menekankan bahwa stabilitas Selat Hormuz tetap krusial bagi pasar energi dunia, karena kapasitas jalur alternatif masih terbatas dibandingkan volume minyak yang biasanya melewati selat tersebut setiap hari.
(Ls/*)







