Kabarindo24jam.com | Indonesia – Malam hingga pagi hari belakangan ini terasa lebih menusuk dinginnya meski Indonesia sedang berada di musim kemarau. Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding, atau dalam bahasa Jawa disebut mbedhidhing, yang lazim terjadi di sejumlah daerah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa bediding merupakan kondisi normal yang muncul ketika puncak kemarau berlangsung. Suhu yang turun dipicu oleh berbagai faktor atmosferik, seperti rendahnya kelembapan udara, minimnya awan, hingga hembusan angin kering dari Australia yang sedang mengalami musim dingin.
Fenomena ini erat kaitannya dengan cuaca cerah khas kemarau. Langit yang jarang berawan membuat panas dari permukaan bumi lebih cepat dilepas ke atmosfer pada malam hari. Uap air yang sedikit di udara juga memperparah kondisi, sebab tidak ada cukup media untuk menyimpan panas. Akibatnya, udara di permukaan terasa semakin dingin menjelang pagi.
Dinginnya udara makin terasa saat angin muson timur bertiup melewati wilayah selatan Indonesia. Angin yang berasal dari Australia itu membawa hawa kering sekaligus dingin. Efeknya paling jelas dirasakan di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara pada siang hari, suhu justru melonjak karena sinar matahari langsung menghantam permukaan tanpa terhalang awan.
BMKG memperkirakan fenomena bediding akan berlangsung hingga puncak kemarau berakhir, sekitar Agustus hingga awal September. Namun, lembaga tersebut menekankan bahwa musim kemarau tahun ini terbilang tidak biasa. Dalam laporannya, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia justru mengalami kemarau basah akibat suhu muka laut yang hangat serta aktivitas gelombang atmosfer. Kondisi ini diperkirakan bertahan hingga Oktober 2025 dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir maupun longsor di daerah yang masih diguyur hujan. (Man*/)





