Calon Awak Kapal Induk Indonesia Wajib Berkualifikasi Tinggi dan Ahli Khusus

Kabarindo24jam.com | Jakarta – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mulai menyeleksi prajurit pilihan untuk mengawaki calon kapal induk pertama Indonesia, Giuseppe Garibaldi. Adapun personel yang terpilih, wajib menguasai kompetensi tinggi, mulai dari ahli navigasi hingga spesialis penerbangan.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul, menyebut seleksi khusus ini menjadi syarat mutlak karena kompleksitas sistem kapal induk. Di mana, setiap personel memerlukan keahlian teknis spesifik untuk mengoperasikan sistem persenjataan serta operasional penerbangan di atas dek kapal.

Bacaan Lainnya

“Iya sudah pasti Mabes TNI AL melakukan seleksi khusus dengan kriteria kompetensi tinggi untuk prajurit yang akan mengawaki kapal induk tersebut,” kata Laksma TNI Tunggul dalam keterangannya yang dikutip, Rabu (11/3/2026).

Langkah ini, lanjut perwira tinggi bintang satu ini, diambil mengingat Giuseppe Garibaldi merupakan kapal induk yang memiliki sistem navigasi dan operasional yang berbeda dengan kapal perang (KRI) pada umumnya.

Sebelumna, Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksda Yayan Sofiyan menjelaskan, setidaknya butuh 500 pelaut untuk mengawaki kapal induk seberat 13 ribu ton tersebut. Laksda Yayan pun menegaskan, penguasaan teknologi menjadi kunci utama.

“Personelnya itu ada sekitar 500 pelaut yang harus mengawaki. Dari mulai sekarang sampai level perwiranya harus memiliki kompetensi-kompetensi khusus sebagai pengawak kapal induk,” ujar Yayan dalam diskusi secara daring di Jakarta baru-baru ini.

Ia menambahkan, kriteria tinggi ini berlaku terutama bagi jajaran perwira. Para pengawak harus siap menguasai teknologi aviasi serta sistem tempur yang terintegrasi, mengingat kapal ini berfungsi sebagai pangkalan udara terapung.

Untuk diketahui, TNI AL memproyeksikan Giuseppe Garibaldi bukan sekadar alat angkut, melainkan pusat operasi udara yang kemungkinan besar mengusung teknologi wahana udara nirawak (drone). Oleh karena itu, kru inti harus memiliki kesiapan teknis yang matang. “Kru inti itu belum termasuk kru untuk penerbangan, sistem aviation, dan sebagainya. Pentahapan ini sedang kita persiapkan dengan baik,” ucap Yayan.

Saat ini, Mabes TNI AL masih terus mematangkan kesiapan SDM agar sesuai dengan target kedatangan kapal. Kehadiran kapal induk dari Italia ini diharapkan menjadi lompatan besar bagi TNI AL menuju kekuatan Blue Water Navy, yakni yakni angkatan laut yang dapat beroperasi lintas samudra dan secara global. (Cok/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *