Kabarindo24jam.com | Bengkulu Utara — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Bengkulu Utara kembali melaksanakan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya di tengah maraknya ancaman era digital. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (27/11/2025) ini berlangsung di Aula Kantor Camat Padang Jaya dan dihadiri unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, aktivis, serta puluhan perempuan dari berbagai desa.
Turut hadir Kapolsek Padang Jaya, Kepala Urusan Agama Kecamatan, seluruh Kepala Desa beserta perangkat, para pemerhati perempuan dan anak, serta lembaga pendamping hukum.
_Era Digital: Ancaman Semakin Kompleks_
Dalam pemaparannya, Kepala Dinas DPPPA Bengkulu Utara melalui Kabid Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak, Feny Febrianti, S.H, menegaskan bahwa bentuk kekerasan saat ini semakin modern dan sulit terdeteksi.
“Banyak kasus kekerasan bermula dari handphone, media sosial, dan ruang digital. Manipulasi, eksploitasi, hingga intimidasi kini terjadi lewat layar. Karena itu edukasi, pengawasan keluarga, dan literasi digital harus berjalan beriringan,” tegas Feny.
Ia juga menekankan bahwa meningkatnya kasus kekerasan di Bengkulu Utara harus menjadi alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat peran pengawasan di lingkungan keluarga dan desa.
_ART-JO Bengkulu: Edukasi Tidak Boleh Seremonial_
Perwakilan Artis Kerja Optimis (ART-JO) Bengkulu sekaligus Ketua Yayasan Kabarindo Bengkulu, Wendi HS, memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut namun mengingatkan bahwa edukasi pencegahan kekerasan harus dilakukan berjenjang, terstruktur, dan rutin setiap bulan.
“Kasus terus meningkat, apalagi di era digital. Edukasi seperti ini tidak boleh hanya berhenti pada acara seremonial. Setiap kecamatan harus mendapatkan materi yang sama secara rutin dan terjadwal,” tegas Wendi.
Menurutnya, mencegah jauh lebih penting daripada menangani, sehingga masyarakat harus diperkuat literasinya dari tingkat desa.
_ART-JO Siap Kolaborasi Dengan Komunitas Hiburan Bengkulu_
Wendi juga mengungkapkan bahwa ART-JO Bengkulu siap memperluas jangkauan edukasi dengan berkolaborasi bersama Ikatan Komunitas Organ Tunggal Bengkulu.
“Kami akan berkoordinasi agar edukasi ini bisa disuarakan lebih luas. Perlindungan perempuan dan anak adalah tugas moral seluruh elemen masyarakat,” ujar Wendi.
Menurutnya, sektor seni dan hiburan mampu menjadi jembatan efektif untuk menyampaikan pesan perlindungan hingga ke pelosok desa.
Apresiasi Khusus untuk Aktivis & Advokat Julisti Anwar, S.H
Wendi juga memberikan apresiasi kuat kepada Advokat sekaligus Aktivis Perempuan dan Anak, Julisti Anwar, S.H, yang selama ini aktif mendampingi korban baik bersama DPPPA maupun secara mandiri.
“Kehadiran Ibu Julisti Anwar adalah bukti bahwa perjuangan kemanusiaan tidak selalu tentang imbalan. Beliau mendampingi korban dari tingkat kepolisian hingga persidangan, sering kali dengan bayaran kecil, namun tetap dilakukan dengan ketulusan,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah memberikan dukungan lebih besar kepada para pendamping seperti Julisti agar penanganan korban semakin maksimal.
_Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Harapan Bersama_
Sosialisasi ini menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dilakukan satu pihak saja. Kerja sama antara pemerintah, kepolisian, lembaga agama, perangkat desa, seniman, komunitas hiburan, serta para aktivis sangat dibutuhkan.
Semua pihak sepakat bahwa Bengkulu Utara harus semakin serius menjadikan perlindungan perempuan dan anak sebagai prioritas utama, terutama di era digital yang serba cepat dan rawan. (Wen*/)

