Kabarindo24jam.com | Jakarta — Industri film horor Indonesia kembali menghadirkan terobosan baru melalui film PENUNGGU RUMAH: BUTO IJO, sebuah re-imajinasi dongeng klasik Timun Mas yang diolah dengan pendekatan horor psikologis dan visual modern. Film ini akan melangsungkan Gala Premiere pada Kamis, 8 Januari 2026, di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan.
Disutradarai oleh Achmad Romie, film berdurasi 75 menit ini tidak sekadar menghidupkan kembali legenda rakyat, tetapi membongkar sisi kelam yang selama ini tersembunyi di balik kisah populer yang diwariskan turun-temurun.
Isi Cerita: Ketika Dongeng Berubah Menjadi Teror.
PENUNGGU RUMAH: BUTO IJO mengisahkan sebuah rumah tua yang menyimpan perjanjian masa lalu antara manusia dan sosok yang diyakini sebagai mitos—Buto Ijo. Dalam versi ini, Buto Ijo tidak digambarkan semata sebagai raksasa pemangsa, melainkan entitas penjaga rumah yang menuntut janji yang pernah diikrarkan.
Ketika seorang perempuan muda kembali ke rumah warisan keluarganya, serangkaian kejadian janggal mulai terjadi. Bisikan, bayangan, dan kemunculan sosok misterius perlahan mengungkap bahwa kisah Timun Mas bukanlah dongeng pengantar tidur, melainkan sejarah kelam yang belum selesai.

Film ini menempatkan horor bukan hanya pada wujud makhluk, tetapi pada rasa bersalah, trauma, dan konsekuensi dari janji yang dilanggar.
Pendekatan Horor Psikologis dan Budaya Lokal.
Berbeda dari horor konvensional, film ini menggabungkan unsur folklor Jawa, simbol-simbol rumah tradisional, serta atmosfer sunyi yang menekan. Achmad Romie memanfaatkan ruang sempit, pencahayaan redup, dan tempo narasi lambat untuk membangun ketegangan secara bertahap.
Alih-alih mengandalkan jumpscare berlebihan, film ini menekankan rasa tidak nyaman yang menetap—membiarkan penonton bertanya-tanya siapa sebenarnya monster dalam cerita ini.
Deretan Pemeran dan Unsur Musik
Film ini dibintangi oleh Gandhi Fernando, Celine Evangelista, Valerie Thomas, Adnan Djani, Meryem Hasanah, Pratito Wibowo, dan Arie Dwi Andhika, yang masing-masing membawa lapisan emosi dan konflik personal ke dalam cerita.
Sementara itu, OST yang dibawakan Ardina Rasti memperkuat nuansa mistis dengan komposisi yang menggabungkan elemen musik tradisional dan modern, menciptakan suasana melankolis sekaligus mencekam.
Upaya Mengangkat Dongeng Lokal ke Layar Modern
Melalui PENUNGGU RUMAH: BUTO IJO, rumah produksi Creator Media, Maxstream Studios, Serujuga Film Studio, dan Vibe menunjukkan komitmen untuk mengangkat cerita rakyat Indonesia ke dalam bahasa sinema yang relevan dengan penonton masa kini.
Film ini menjadi bukti bahwa dongeng lokal tidak hanya layak dikenang, tetapi juga dapat ditafsir ulang sebagai medium refleksi tentang keluarga, janji, dan harga yang harus dibayar ketika masa lalu diabaikan. (Ls/*)
