Kabarindo24jam.com | Bengkulu – Di sebuah ruang kelas sederhana di pinggiran Kota Arga Makmur, suara lembut seorang guru terdengar menegur siswanya yang tertangkap merokok di belakang sekolah. Tak ada bentakan. Tak ada tamparan. Hanya tatapan kecewa, lalu percakapan panjang tentang masa depan, kesehatan, dan rasa hormat pada orang tua.
Pemandangan seperti ini bukan hal langka di Bengkulu Utara. Dari hasil penelusuran tim Kabarindo24jam Bengkulu sepanjang periode 2024–2025, hampir tidak ditemukan kasus kekerasan fisik oleh guru terhadap siswa atau siswi di wilayah ini. Padahal, kenakalan remaja di sekolah—seperti membolos, merokok diam-diam, atau melawan aturan—masih kerap terjadi.
Namun, para pendidik di daerah ini memilih menegakkan disiplin dengan cara-cara yang lebih manusiawi. Mereka sadar, di balik setiap perilaku siswa yang sulit diatur, selalu ada cerita yang tak bisa diselesaikan hanya dengan hukuman fisik.
“Apapun bentuk kekerasan terhadap siswa atau siswi di sekolah tidak dapat dibenarkan,” ujar perwakilan Yayasan Kabarindo saat ditemui awak media. “Hal ini sudah menjadi kesepakatan dunia bahwa anak-anak harus dilindungi dari tindakan kekerasan, baik fisik maupun verbal.”
Pernyataannya menjadi angin segar di tengah panasnya perdebatan publik yang sempat muncul akibat kasus viral seorang guru yang menampar siswanya karena merokok di sekolah. Video singkat itu menimbulkan gelombang opini: sebagian masyarakat mendukung tindakan guru, sebagian lain mengecam. Namun dari Bengkulu Utara, lahir pelajaran berbeda—bahwa ketegasan bisa berjalan seiring dengan kasih sayang.
Perwakilan Yayasan Kabarindo melanjutkan,
> “Tak jarang guru menemukan siswa atau siswinya sedang merokok, tapi mereka tetap memilih bersikap humanis. Mereka menegur dengan hati, menasihati dengan sabar, tanpa kekerasan, tanpa merendahkan. Justru dengan pendekatan itu, siswa seringkali lebih cepat sadar.”
Ia juga menegaskan pentingnya perubahan pola pikir di kalangan pendidik,
> “Sebaiknya hilangkan dari benak dan pikiran guru bahwa mendidik harus dengan kekerasan. Pendidikan sejati bukan tentang menakut-nakuti, tapi tentang menuntun dan menginspirasi.”
Kini, banyak sekolah di Bengkulu Utara mulai menanamkan budaya pembinaan berbasis karakter dan empati. Guru tidak lagi sekadar pengajar, tetapi juga pendengar, pembimbing, bahkan teman bagi murid-muridnya. Mereka memahami, anak-anak bukan lembar kosong yang bisa dicoret dengan kemarahan, tetapi taman yang perlu disirami dengan kasih dan kepercayaan.
Di tengah segala tantangan zaman—gadget, pergaulan bebas, dan godaan masa remaja—para guru di Bengkulu Utara memilih berdiri di garda depan dengan hati yang lembut namun teguh. Karena mereka tahu, wibawa sejati seorang guru bukan lahir dari tangan yang keras, melainkan dari hati yang tulus mendidik. (Wen*/)





