Kabarindo24jam.com | Jakarta – Rencana impor 105.000 kendaraan niaga dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menuai sorotan kalangan industri. PT Agrinas Pangan Nusantara disebut akan mendatangkan masing-masing 35.000 unit pick-up 4×4 produksi Mahindra & Mahindra Ltd., 35.000 unit pick-up 4×4 dari Tata Motors, serta 35.000 unit truk roda enam, dengan pengiriman bertahap sepanjang 2026.
Kebijakan tersebut langsung memantik respons Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang meminta Presiden membatalkan rencana impor itu. Organisasi pengusaha menilai kebutuhan kendaraan operasional koperasi desa sejatinya dapat dipenuhi oleh produsen otomotif dalam negeri tanpa harus mengandalkan produk impor.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Saleh Husin mengatakan, pihaknya telah menghimpun pandangan dari pelaku industri dan asosiasi otomotif yang keberatan atas skema impor dalam bentuk completely built up (CBU). Menurut dia, langkah tersebut berisiko menekan utilisasi pabrik nasional serta mengurangi kontribusi sektor otomotif terhadap perekonomian domestik.
Saleh menegaskan kapasitas produksi pick-up nasional mencapai ratusan ribu unit per tahun dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 40 persen serta didukung jaringan layanan purna jual yang tersebar luas. Ia mengingatkan kebijakan perdagangan harus sejalan dengan agenda hilirisasi dan penciptaan lapangan kerja. “Mengimpor mobil CBU sama saja dengan membunuh industri otomotif yang sedang tumbuh,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Indonesia telah mampu memproduksi kendaraan pick-up secara mandiri sebagai bukti kemandirian industri nasional. Ia menyebut, jika kebutuhan 70.000 unit pick-up 4×2 dipenuhi dari produksi dalam negeri, potensi dampak ekonomi ke belakang (backward linkage) diperkirakan mencapai Rp27 triliun. Pemerintah pun didorong memastikan sinkronisasi kebijakan agar program pembangunan koperasi desa turut memperkuat industri otomotif nasional. (Man*/)





