Kabarindo24jam.com | Jakarta – Tekanan hidup modern tidak selalu datang dari peristiwa besar. Rutinitas harian yang tampak sepele justru dapat membuat hormon kortisol terus aktif dan memicu stres berkepanjangan, kegelisahan, hingga kelelahan emosional. Kondisi ini terjadi ketika tubuh gagal mengembalikan kortisol ke ritme alaminya.
Dokter ahli anestesi dan pengobatan nyeri, Kunal Sood, menjelaskan bahwa kortisol sejatinya berperan membantu tubuh merespons stres. Namun, berbagai kebiasaan sehari-hari dapat membuat kadarnya tetap tinggi atau tidak stabil. “Kortisol membantu Anda mengatasi stres, tetapi kebiasaan sehari-hari dapat membuat kadarnya tetap tinggi atau mengganggu ritme normalnya. Hal ini dapat memengaruhi tidur, metabolisme, suasana hati, dan pemulihan,” ujar Sood, seperti dikutip dari Hindustan Times, Jumat (2/1).
Salah satu pemicu utama ketidakseimbangan kortisol adalah kurang tidur. Menurut Sood, tidur yang cukup berperan menekan kadar kortisol pada malam hari. Sebaliknya, kurang tidur justru meningkatkan hormon stres tersebut dan memperbesar respons stres pada hari berikutnya. Selain itu, olahraga yang dilakukan secara berlebihan tanpa waktu pemulihan juga dapat berdampak serupa.
“Olahraga memang meningkatkan kortisol secara singkat, lalu seharusnya kembali normal. Ketika latihan melebihi pemulihan, ritme kortisol menjadi tidak normal, mencerminkan disfungsi sumbu HPA, bukan adaptasi yang sehat,” kata Sood. Ia menambahkan, konsumsi kafein berlebihan juga dapat memperparah kondisi ini karena kafein bersifat stimulan yang menaikkan kadar kortisol, terutama jika dikombinasikan dengan stres yang berlangsung terus-menerus.
Selain itu, kebiasaan melewatkan waktu makan, khususnya sarapan, serta terlalu lama menatap layar turut memengaruhi keseimbangan hormon stres. Sood menjelaskan, melewatkan makan dapat meningkatkan kortisol untuk menjaga kadar glukosa darah. Sementara paparan cahaya biru dari layar dalam waktu lama dapat mengganggu ritme sirkadian dan kualitas tidur. “Cahaya biru menekan melatonin, memperburuk kualitas tidur, dan secara tidak langsung meningkatkan kortisol pada malam hari,” ujarnya. (Man*/)





