Ketegangan AS-Iran Meningkat, Washington Buka Opsi di Luar Diplomasi

0
178

Kabarindo24jam.com | Washington, 3 Februari 2026 — Pemerintahan Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan tegas terkait hubungan dengan Republik Islam Iran seiring meningkatnya ketegangan atas program nuklir Teheran.

Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam beberapa keterangannya pekan ini, yang menegaskan bahwa militer Amerika siap melaksanakan opsi apapun jika Iran menolak pembicaraan tentang pembatasan kemampuan nuklirnya.

Hegseth menegaskan bahwa Presiden Donald Trump telah membuat kebijakan yang jelas: Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memperoleh kemampuan senjata nuklir. Ia mengatakan bahwa Teheran memiliki pilihan untuk bernegosiasi mengenai isu nuklir itu, atau AS memiliki opsi lain termasuk tindakan militer.

Pernyataan ini muncul di tengah penempatan signifikan kekuatan militer Amerika, termasuk kedatangan Kelompok Serang Kapal Induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Asia Barat.

Menurut Hegseth, pemerintahan AS tidak menginginkan perang, namun militer AS “lebih dari siap” jika situasi berkembang ke arah itu. Ia menegaskan tugas Pentagon adalah memastikan kesiapan menghadapi skenario terburuk, sekaligus terus membuka peluang diplomasi.

Sementara itu, Teheran menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap proses diplomatik. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikabarkan telah memerintahkan untuk melanjutkan negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat, dan ada rencana pertemuan antara pejabat senior kedua negara di tingkat menteri luar negeri dalam beberapa hari mendatang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan bahwa beberapa jalur diplomatik sedang dipelajari, dengan harapan dapat menghasilkan kemajuan dalam beberapa hari ke depan. Upaya ini difasilitasi oleh negara-negara regional yang menjadi perantara dalam komunikasi antara Washington dan Teheran.

Di pihak lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat memulai serangan militer, konflik bisa berkembang menjadi perang regional luas.

Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas eskalasi retorika dan penempatan militer AS di kawasan, dan mencerminkan kekhawatiran Tehran terhadap kemungkinan konfrontasi.

Pernyataan Khamenei menggarisbawahi bahwa meskipun Iran tidak ingin memulai perang, negara itu akan memberikan perlawanan kuat terhadap setiap serangan fisik terhadap wilayahnya.

Para analis menyebut ketegangan antara AS dan Iran ini memiliki implikasi luas tidak hanya bagi stabilitas Timur Tengah, tetapi juga hubungan diplomatik antara kekuatan global lainnya. Upaya negosiasi ulang nuklir ini dipantau oleh negara-negara regional seperti Turki, Qatar, Mesir, dan Uni Emirat Arab, yang berupaya menjembatani dialog antara Teheran dan Washington.

Sejauh ini, kedua negara tampak berada pada persimpangan: diplomasi masih menjadi pilihan yang diupayakan sekaligus disertai persiapan militer yang intens. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada hasil pembicaraan yang direncanakan berlangsung dalam waktu dekat.

(Ls/*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini