Krisis As – Iran 2026, Pengerahan Militer dan Ancaman Balasan di Teluk

0
129

Kabarindo24jam.com | TEHERAN / WASHINGTON, D.C. — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menguat tajam dalam beberapa minggu terakhir, setelah serangkaian peristiwa domestik di Iran dan respons militer serta diplomatik dari kedua negara yang menempatkan kelompok kapal induk AS di wilayah Teluk Persia dan memicu peringatan keras dari Tehran.

Ketegangan meningkat tajam sejak akhir Desember 2025 ketika gelombang protes besar di Iran dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi, termasuk kejatuhan nilai tukar rial.

Aparat keamanan Iran melakukan penindakan yang menurut kelompok aktivis HAM menewaskan ribuan pengunjuk rasa, meskipun angka resmi pemerintah jauh lebih rendah.

Kekerasan tersebut memicu kecaman internasional dan tekanan tambahan dari pemerintahan AS, yang menyerukan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta menyatakan dukungan bagi demonstran.

Sebagai bagian dari respons atas situasi di Iran dan dugaan ancaman terhadap pasukan AS di kawasan, Washington memindahkan aset militer besar ke Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln bersama kelompok penyerangnya dialihkan dari kawasan Asia-Pasifik menuju perairan sekitar Teluk Persia.

Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pengerahan ini merupakan upaya menjalankan tekanan strategis terhadap Iran, mengawasi situasi, dan menunjukkan kemampuan militer yang siap disiapkan jika diperlukan.

Trump juga memperingatkan Iran agar menerima kesepakatan tentang program nuklir yang mengekang ambisi senjata atom atau menghadapi “serangan yang lebih berat dibanding sebelumnya.

Pemerintaj Iran secara konsisten mengecam peningkatan kehadiran militer AS, menilai:
Tidak dapat ada negosiasi jika dilakukan dalam suasana ancaman militer, kata pejabat tinggi Iran, Menlu Abbas.

Teheran menyatakan sikap bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dipandang sebagai perang total (“all-out war”) dan akan dibalas dengan kekuatan penuh.

Komandan militer Iran menyatakan bahwa negara tersebut siap sepenuhnya, dan Iran mengklaim memiliki kendali atas wilayah darat, udara, serta bawah laut di Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak strategis dunia.

Iran juga dilaporkan menambah kekuatan udara tak berawak (drone) dalam jumlah besar sebagai bagian dari persiapannya terhadap kemungkinan serangan.

Ketegangan militer tidak hanya antara dua negara, tetapi juga melibatkan kelompok milisi yang didukung Iran di sejumlah negara seperti Irak dan Yaman, yang mengecam kehadiran kapal induk AS dan mengancam tindakan balasan jika konflik meletus.

PBB dan sejumlah negara lain telah menyuarakan kekhawatiran atas peningkatan militerisasi di Teluk dan risiko konflik terbuka, menyerukan agar pihak-pihak menahan diri dan menghindari tindakan yang bisa memicu eskalasi lebih jauh.

Hingga 30 Januari 2026, situasi tetap tegang:
USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal pendukung telah berada di wilayah perairan yang menyokong kemampuan militer AS untuk operasi cepat jika diperlukan.

Tehran tetap menolak negosiasi simbolis jika ancaman militer terus berlangsung.
Ketidakpastian tetap tinggi karena kedua belah pihak saling memperkuat posisi militernya, sementara upaya diplomatik masih belum menunjukkan tanda-tanda terobosan dalam menurunkan ketegangan.

Ketegangan ini telah berdampak pada pasar global, termasuk kenaikan harga minyak mentah, yang sering kali menjadi indikator ketidakpastian di kawasan Teluk yang vital untuk pasokan energi dunia.

Amerika Serikat
Menegaskan kehadiran militer sebagai bentuk tekanan strategis.
Menyebut opsi militer tetap tersedia namun berharap ketegangan tidak memicu konflik langsung.

Iran
Menolak negosiasi selama ancaman militer terus berlangsung.
Mengeluarkan ancaman keras bahwa setiap serangan akan dibalas dengan kekuatan besar.

Hingga kini belum ada laporan bentrokan langsung antara pasukan kedua negara.”

(Ls/*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini