Krisis Bisnis Kuliner Guncang Singapura

0
39

Kabarindo24jam.com | Jakarta – Singapura selama ini dikenal sebagai negara yang stabil secara ekonomi. Namun, sektor kuliner di negeri itu tengah mengalami tekanan berat. Data terbaru menunjukkan lebih dari 3.000 usaha makanan dan minuman harus menutup operasional dalam setahun terakhir. Rata-rata sekitar 250 restoran berhenti beroperasi setiap bulan, angka tertinggi dalam hampir dua dekade.

Di antara yang tutup terdapat sejumlah tempat makan legendaris. Salah satunya Ka-Soh, restoran Kanton berusia 86 tahun yang akhirnya menghidangkan mangkuk sup ikan terakhirnya pada akhir September. Pemilik generasi ketiganya menjelaskan bahwa kenaikan harga tidak mungkin dilakukan karena ingin menjaga identitas restoran sebagai tempat makan terjangkau bagi pelanggan lama.

Fenomena serupa juga menimpa jaringan lain seperti Burp Kitchen & Bar dan Prive Group. Restoran-restoran tersebut tidak mampu menahan kombinasi kenaikan biaya sewa, biaya tenaga kerja, serta penurunan permintaan. Beberapa gerai yang bahkan masuk dalam daftar restoran ternama pun ikut tumbang.

Kenaikan sewa menjadi keluhan terbesar para pemilik usaha. Banyak penyewa melaporkan lonjakan tarif antara 20% hingga hampir 50%. Di sisi lain, permintaan investor terhadap ruko melonjak, sehingga mendorong ekspektasi imbal hasil yang semakin tinggi. Kenaikan biaya konstruksi dan perawatan turut memperberat beban.

Restoran kecil semakin terjepit oleh minimnya tenaga kerja. Gaji staf meningkat tajam karena kompetisi dengan pemain besar. Bagi usaha kecil, kondisi ini membuat operasional tidak lagi seimbang.

Di tengah tekanan, pola konsumsi masyarakat Singapura juga berubah. Warga kini lebih mengandalkan media sosial untuk memilih tempat makan baru, ditambah frekuensi kunjungan yang makin jarang. Hal ini membuat pelaku usaha harus menyesuaikan strategi agar tetap terlihat di dunia digital. Beberapa yang cepat beradaptasi berhasil bangkit, seperti Marie’s Lapis Cafe yang mengalami peningkatan penjualan setelah aktif memasarkan konten dan berkolaborasi dengan kreator.

Di tingkat kebijakan, sejumlah pihak menyerukan peninjauan kuota tenaga kerja asing serta dukungan lebih besar bagi usaha kecil untuk meningkatkan produktivitas. Beberapa bisnis mulai memanfaatkan teknologi untuk memperoleh data pelanggan dan menekan tingkat keluar-masuk karyawan.

Kelompok penyewa juga mendorong regulasi sewa yang lebih adil agar usaha kuliner dapat bertahan lebih lama. Dengan langkah adaptasi dan dukungan kebijakan yang tepat, banyak pihak berharap sektor kuliner Singapura dapat kembali stabil.

(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini