Kabarindo24jam.com | Teheran, Iran — Demonstrasi menentang kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah di Iran terus berlangsung sejak akhir Desember 2025, melibatkan ribuan warga di berbagai kota besar dan kecil di seluruh negara.
Aksi ini mencerminkan tekanan publik terhadap situasi ekonomi yang memburuk, termasuk nilai mata uang yang anjlok dan biaya hidup yang meningkat tajam.
Aksi seluas ini bermula dari penutupan toko-toko di Teheran oleh pedagang di Grand Bazaar sebagai respons terhadap depresiasi tajam nilai rial Iran dan lonjakan harga barang kebutuhan pokok.
Demonstrasi itu kemudian menyebar ke sejumlah kota lain, seperti Isfahan, Shiraz, dan Mashhad, dengan partisipasi pelajar, pekerja, dan kelompok masyarakat lain yang menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap kondisi ekonomi negara.
Para demonstran secara rutin muncul di jalan-jalan, menutup toko dan bergabung dalam unjuk rasa di berbagai pusat kota. Beberapa menyampaikan tuntutan yang melampaui masalah ekonomi, termasuk permintaan perubahan sistem pemerintahan yang lebih luas daripada sekadar perbaikan.
Pihak berwenang merespons protes ini dengan pembatasan komunikasi, termasuk pemutusan akses internet hampir keseluruhan di sebagian besar wilayah Iran sejak 8 Januari 2026, yang membatasi aliran informasi ke luar negeri dan di dalam negeri.
Informasi dari kelompok pemantau mencatat jumlah korban dan penahanan selama demonstrasi, meskipun angka pasti sulit diverifikasi secara independen karena kendala komunikasi dan pembatasan akses.
Di tengah gelombang protes tersebut, pemerintah Iran menyelenggarakan pertemuan massa pro-pemerintah di beberapa lokasi, termasuk di ibu kota Teheran. Ribuan pendukung pemerintah berkumpul dalam aksi yang disiarkan oleh media resmi Iran dengan tujuan menunjukkan dukungan terhadap rezim dan menolak campur tangan asing, menurut laporan resmi setempat.
Dalam aksi pro-pemerintah tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian tampak hadir secara langsung bersama para pendukung pemerintah. Kehadiran Pezeshkian di lokasi aksi menunjukkan upaya pemerintah untuk menegaskan dukungan dan stabilitas di tengah ketidakpuasan publik yang meluas.
Keterangan resmi media pemerintah juga menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut hadir dalam beberapa kegiatan pro-pemerintah, meskipun rincian agenda dan pernyataan publik yang disampaikan oleh pejabat tersebut difokuskan pada narasi dukungan terhadap pemerintah dan penolakan terhadap upaya pihak luar untuk mempengaruhi situasi dalam negeri Iran.
Sementara itu, protes rakyat yang fokus pada tuntutan perubahan ekonomi dan politik terus berlangsung secara berkelanjutan di berbagai kota, meskipun mendapat tekanan dari aparat keamanan.
Para demonstran tetap turun ke jalan dengan tujuan menyalurkan tuntutan mereka terkait pembaruan kebijakan ekonomi dan pemerintahan, serta penyelesaian masalah sosial yang mereka hadapi sehari-hari. (Lcl*)





