Kabarindo24jam | Papua Selatan – Keterbatasan akses listrik masih menjadi persoalan mendasar di banyak wilayah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal) Indonesia. Di tengah tantangan tersebut, belum lama ini Satuan Tugas Pamtas RI–PNG Statis Yonif 403/Wirasada Pratista memasang lampu tenaga surya di Kampung Wamena (Kampung Asiki), Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Hal ini menjadi cerminan konkret tentang bagaimana sektor pertahanan dapat memberikan kontribusi nyata dan bermakna bagi kesejahteraan warga. Aksi tersebut bukan sekadar agenda seremonial, tetapi intervensi tepat sasaran yang menjawab kebutuhan dasar energi masyarakat di wilayah perbatasan.
Pemasangan lampu bantuan ini dipimpin langsung oleh Komandan Yonif 403/Wirasada Pratista, Letkol Inf Moh. Irwan Afandi. Dalam konteks Papua yang masih bergantung pada energi diesel dan jaringan listrik yang terbatas, pemanfaatan teknologi solar cell menjadi solusi realistis.
Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan transisi energi bersih dan pemanfaatan energi terbarukan yang ditekankan pemerintah dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2017. Selain ramah lingkungan, teknologi tersebut dapat menjangkau daerah pedalaman tanpa infrastruktur listrik yang memadai.
Panglima Koops Swasembada, Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito, belum lama ini menegaskan, bahwa inisiatif seperti ini merupakan bagian dari komitmen TNI dalam menghadirkan negara bagi masyarakat perbatasan dan wilayah 3T.
Pernyataan tersebut, sekaligus memperlihatkan paradigma baru peran TNI yang tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga melakukan pendekatan human security, konsep yang menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pilar keamanan negara.
Model pendekatan keamanan manusia ini juga direkomendasikan UNDP (1994) dan telah banyak diadopsi di berbagai negara yang menghadapi tantangan pembangunan dan keamanan secara simultan.
Partisipasi TNI dalam membantu pemenuhan kebutuhan dasar warga sejalan dengan amanat Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang termuat dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Pada wilayah perbatasan, dimana sering kali menghadapi keterbatasan pada layanan dasar negara, sehingga kehadiran TNI menjadi jembatan penting bagi masyarakat yang selama ini hidup ditengah keterbatasan.
Hal ini diperkuat dengan UU No 4 Tahun 2017 tentang pengerahan TNI dalam pengamanan wilayah perbatasan. Di Kampung Asiki, secercah cahaya dari lampu tenaga surya bukan hanya penerangan fisik, namun juga merupakan simbol hadirnya negara dalam bentuk paling sederhana dan paling nyata.
Respon masyarakat yang antusias terhadap bantuan lampu tenaga surya menunjukkan bahwa program-program kecil namun berdampak seperti ini dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap negara.
Namun demikian, dalam pelaksanaan program seperti ini, idealnya tidak berdiri sendiri. Pemerintah daerah dan kementerian terkait perlu melihat kegiatan ini sebagai pemicu untuk percepatan pembangunan energi berkelanjutan di Papua Selatan.
TNI dapat menjadi mitra, tetapi pembangunan infrastruktur energi tetap merupakan tanggung jawab negara secara holistik. Kolaborasi lintas sektor merupakan kunci agar penyediaan energi tidak bergantung pada inisiatif aktor tunggal.
Langkah Satgas Pamtas Yonif 403/Wirasada Pratista memberikan pelajaran penting pembangunan di perbatasan membutuhkan pendekatan yang terintegrasi antara keamanan dan kesejahteraan. Ketika prajurit TNI menyalakan lampu di rumah-rumah warga Kampung Asiki, mereka sejatinya sedang menyalakan kembali harapan bahwa pembangunan yang merata bukan sekadar jargon, melainkan komitmen yang bisa diwujudkan dengan langkah-langkah kecil namun penuh makna. (Man/*)





