Kabarindo24jam.com | Jakarta – Penipuan berbasis pesan instan kembali marak terjadi. Kali ini, pelaku memanfaatkan aplikasi WhatsApp dengan menawarkan saldo awal Rp1 juta kepada korban, yang sebagian besar menyasar kalangan muda, termasuk anak-anak yang pernah terpapar judi online.
Sebuah modus penipuan baru beredar melalui pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal. Pelaku menghubungi korban secara acak dengan menawarkan keuntungan instan berupa saldo awal sebesar Rp1 juta di sebuah situs permainan daring.
Dalam percakapan tersebut, korban diarahkan untuk mendaftar melalui tautan yang diberikan pelaku.
Setelah proses pendaftaran, korban diminta melakukan deposit awal sebesar Rp100 ribu dengan iming-iming saldo akan bertambah menjadi Rp1,1 juta dan bisa langsung ditarik (withdraw) tanpa harus dimainkan.
Pelaku juga menjanjikan skema pembagian keuntungan, di mana korban hanya diminta memberikan komisi sebesar 20 persen dari total saldo setelah penarikan berhasil.
Namun, setelah korban melakukan transfer, dana yang dikirim tidak masuk ke akun yang dijanjikan.
Saat korban mencoba mengonfirmasi kepada pelaku, mereka diarahkan untuk menghubungi layanan pelanggan di situs tersebut.
Alih-alih mendapatkan solusi, korban justru diminta kembali melakukan transfer dengan alasan kesalahan teknis, seperti tidak memasukkan “kode unik” dalam transaksi sebelumnya.
Modus ini diduga merupakan bagian dari skema penipuan terorganisir yang memanfaatkan psikologi korban, terutama dengan menawarkan keuntungan cepat tanpa risiko.
Selain kerugian finansial, praktik ini juga berpotensi mendorong korban, khususnya anak-anak, untuk terlibat dalam aktivitas judi online.
Dampak dan Imbauan:
Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap tawaran mencurigakan melalui pesan pribadi, terutama yang menjanjikan keuntungan instan.
Masyarakat diimbau untuk:
Tidak mudah percaya pada tawaran dari nomor tidak dikenal
Tidak mengklik tautan sembarangan
Tidak melakukan transfer dana tanpa verifikasi yang jelas
Segera melaporkan kejadian serupa kepada pihak berwenang.
Pakar keamanan digital menegaskan bahwa ciri utama penipuan semacam ini adalah adanya permintaan transfer di awal serta janji keuntungan besar dalam waktu singkat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penipuan digital terus berkembang dengan berbagai modus baru. Kewaspadaan dan literasi digital menjadi kunci utama untuk melindungi diri dari kejahatan siber yang semakin kompleks.
(Ls/*)







