Kabarindo24jam.com | Bogor kota – Wali Kota Bogor Dedie Abdu Rachim terus berupaya meningkatkan akses layanan transportasi masyarakat Kota bahkan Kabupaten Bogor. Salah satu upaya Dedie adalah pengembangan atau perpanjangan relasi Kereta Rel Listrik (KRL) Commuterline hingga Stasiun Cigombong – Kabupaten Bogor.
Secara senyap, Wali Kota Dedie Rachim rupayanya telah menanyakan kepada Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait fungsi dari keberadaan Stasiun Ciomas di Kelurahan Kertamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor beberapa waktu lalu.
“Kemudian saya mengusulkan, karena desain emplasemennya itu sejajar dengan jaringan KRL, maka tentunya tujuan dari pembangunan Ciomas, Rancamaya, kemudian Lido itu bagaimana KRL yang selama ini hanya berhenti di Kota Bogor pasti akan diperpanjang sampai dengan Lido, Cigombong,” ujar Dedie dalam keterangannya yang dikutip, Rabu 11/3/2026).
Adapun keberadaan Stasiun Ciomas bersebelahan dengan aset milik pengembang perumahan Rancamaya (PT Sinarmas Land). Sehingga dengan diusulkannya perpanjangan relasi KRL, masyarakat di wilayah Bogor Selatan, khususnya Rancamaya, Kertamaya, Genteng, dan sekitarnya bisa mengakses layanan KRL tanpa harus menuju Stasiun Bogor.
Namun, PT KAI beralasan bahwa tidak beroperasinya Stasiun Ciomas karena akses kendaraan yang tidak memadai. Menindaklanjuti hal itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor pun melakukan peninjauan lokasi dan menyiapkan rencana untuk membuka akses menuju Stasiun Ciomas.
“Saya dengan Dinas Permukiman, PUPR, Camat dan Lurah, sudah melihat dan memastikan bahwa kita akan bangun akses sampai ke Stasiun Ciomas Rancamaya. Nantinya suatu saat kalau KRL sudah ada jaringan listrik atasnya, ini bisa dimanfaatkan. Jadi tidak ada yang tiba-tiba bisa jadi besok, semua harus dibadamikeun, semua harus kolaborasi dan disinergikan,” jelas Dedie.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kota Bogor, Juniarti Estiningsih, mengungkapkan, untuk menindaklanjuti usulan wali kota beberapa waktu lalu, pihaknya juga sudah melakukan pertemuan dengan DAOP 1 PT KAI. Saat ini, terkait aset yang akan digunakan untuk pembangunan jalan masih dalam kajian.
“Karena kalau di Ditjen Perkeretaapian itu tidak ada skema pinjam pakai, yang ada adalah mekanisme sewa. Tapi kalau mereka sudah bersurat dengan skema sewa, masih ada penawaran. Dan kita minta agar nol rupiah, karena ini kepentingannya masyarakat,” ucap Esti.
Untuk pembangunannya, sambung Esti, juga tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan mencoba melalui mekanisme CSR Rancamaya. “Kalau kita menunggu APBD cukup besar dan cukup berproses. Karena kita ingin percepatan,” ucapnya.
Esti melanjutkan, terkait kondisi dan teknis jalan seluruhnya sudah memadai, mulai dari ROW dengan lebar tiga meter hingga empat meter. “Dengan dibangunkannya jalan ini kami juga akan bersurat ke Pemerintah Kabupaten Bogor supaya bisa masuk ke Ciomas untuk membuka akses baru transportasi perkeretaapian, sehingga bisa memecah kepadatan di pusat kota,” ucapnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Bogor, Sujatmiko Baliarto, menambahkan, dalam sistem transportasi terdapat yang dinamakan simpul transportasi, seperti keberadaan Stasiun Ciomas. Dalam simpul tersebut terdapat integrasi intra dan antarmoda angkutan kota.
Sehingga keberadaan stasiun harus didukung dengan akses angkutan jalan raya menuju kereta api. “Nah pada Stasiun Ciomas ini yang jadi masalah adalah simpulnya ada, tapi tidak ada akses jalan. Sehingga bagaimana akses ini dibuka, baik untuk kendaraan maupun pejalan kaki,” imbuhnya. U







