Kabarindo24jam.com | Jakarta – Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Hor) Purn Sjafrie Sjamsoeddin, mengungkapkan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan diberikan tugas menjaga daerah-daerah vital seperti industri kilang minyak. Menhan Sjafrie menyebut pelaksanaan tugas tersebut akan dimulai pada Desember dengan menugaskan pasukan-pasukan dari TNI Angkatan Darat.
“Tugas-tugas pengamanan instalasi strategis, khususnya yang dimiliki oleh Pertamina, ini juga bagian dari OMSP (Operasi Militer Selain Perang) dan ada di dalam revisi Undang-Undang TNI yang 14 pasal itu,” kata Sjafrie usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi I DPR di Komplek DPR Senayan, Jakarta Pusat, Senin (24/11).
Yang lebih menarik, pelaksanaan tugas pengamanan atau penjagaan lokasi-lokasi vital tersebut akan dipantau personil Badan Intelijen Strategis (BAIS). “Untuk bisa mengetahui hal-hal yang mungkin perlu kita ketahui sebagai suatu ancaman yang potensial, yang mungkin muncul, sehingga kita bisa mengantisipasi pengamanan secara fisik,” jelasnya.
Pertahanan negara, lanjut Sjafrie, adalah mutlak untuk menjaga kedaulatan negara serta stabilitas nasional guna mendukung pembangunan ekonomi. Untuk itu, penugasan menjaga industri strategis tidak dimaksudkan pada kebutuhan ambisi teritorial, tetapi semata-mata menyelamatkan kepentingan nasional.
Industri strategis tersebut, menurut Menhan Sjafrie mempunyai pengaruh signifikan terhadap kedaulatan negara dan memerlukan perhatian bersama. “Sebagai contoh, kilang dan terminal Pertamina. Ini juga bagian yang tidak terpisahkan daripada gelar kekuatan kita,” ucap Menhan Sjafrie.
Dalam kesempatan itu, mantan Panglima Kodam Jaya semasa masih aktif di TNI ini juga mengatakan akan ada penambahan pengerahan prajurit TNI untuk memperkuat pengamanan di tiga wilayah. Tiga wilayah ini ditetapkan sebagai center of gravity, yakni Papua, Jakarta, dan Aceh.
“Bahwa dalam rangka mendukung stabilitas nasional supaya pembangunan ini bisa berjalan aman dan lancar, kita telah menerima petunjuk-petunjuk dari Bapak Presiden, baik sebagai Kepala Negara maupun sebagai Kepala Pemerintahan. Kita sudah menetapkan tiga center gravity yang harus kita jamin faktor keamanannya,” kata dia.
Sjafrie menjelaskan Jakarta menjadi satu dari tiga center of gravity yang keamanan wilayahnya harus dijamin. Dia menyebut pengamanan di Jakarta akan dilakukan menyeluruh untuk wilayah darat, laut maupun udara. “Yang pertama Jakarta sendiri, kita amankan Jakarta itu dari 360 derajat. Baik dari pengamanan pantai, maupun pengamanan udara, serta pengamanan di darat kita lakukan,” katanya.
Titik pengamanan yang kedua adalah Aceh, TNI juga bakal menambah penguatan keamanan di Papua. Dia mengatakan metode pengamanan di Papua akan menerapkan dua cara pendekatan. “Kemudian center of gravity yang kedua adalah Aceh, sebab ini adalah bagian barat dari wilayah kita. Kemudian Center Gravity ketiga adalah Papua. Kita akan menempatkan pasukan di Papua dan menerapkan satu metode yang kita sebut smart approach,” jelas Sjafrie.
“Di mana antara soft approach, pendekatan teritorial, dan hard approach yaitu operasi taktis, kita gabungkan. Sehingga kita ingin merebut hati rakyat agar supaya mereka-mereka yang masih belum mempunyai satu kesamaan pemikiran terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita ajak untuk bersama-sama,” sambungnya.
Dia menegaskan kedaulatan RI jangan sampai diinjak-injak oleh siapa pun. Sjafrie mengatakan pihaknya berkomitmen tetap waspada pada setiap ancaman. “Namun demikian, dalam rangka kita menjaga kedaulatan, kita tidak ingin kedaulatan kita diinjak-injak oleh orang. Sehingga kita tetap harus bersiap siaga dan meneruskan melanjutkan kewaspadaan terhadap kemungkinan-kemungkinan ancaman taktis,” pungkasnya. (Cky/*)





