Tragedi di Balik Biaya Sekolah: Kasus Siswa SD di NTT Jadi Perhatian Nasional

0
263

Kabarindo24jam.com | Ngada, Nusa Tenggara Timur — Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun berinisial YBR/ YBS ditemukan tidak bernyawa mengakhiri hidupnya di sebuah pohon di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis, 29 Januari 2026.

Peristiwa itu disebut-sebut dipicu oleh tekanan ekonomi keluarga yang tidak mampu membelikan buku tulis dan pena seharga kurang dari Rp 10.000 untuk keperluan sekolahnya.

Menurut keterangan kepala desa setempat, malam sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Permintaan itu tidak bisa dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Saat itu korban menginap di rumah ibunya, lalu keesokan harinya ditemukan sudah tidak bernyawa, dengan cara gantung diri di sekitar pondok tempatnya tinggal bersama neneknya.

Petugas kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan dekat lokasi. Surat itu ditujukan kepada ibunya, berisi ungkapan perpisahan yang menunjukkan putus asa dan kekecewaan terhadap situasi yang dialaminya.

Reaksi Pemerintah dan Publik
Kasus ini memicu reaksi dari berbagai pihak di Jakarta hingga daerah:
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menyatakan tragedi ini harus menjadi “cambuk” bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap anak-anak dan memperhatikan kondisi sosial ekonomi di komunitas terpencil.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menyampaikan keprihatinan dan menegaskan pentingnya memperkuat pendataan serta perlindungan sosial agar keluarga rentan tidak terlewat dari program bantuan.

Anggota DPR RI dari Komisi VIII dan Komisi X juga menyoroti tragedi ini sebagai “alarm serius” yang menunjukkan perlunya negara lebih hadir dalam pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan, termasuk sarana pendidikan paling sederhana.

Wakil Ketua DPR mendorong penyelidikan menyeluruh terhadap latar belakang kasus agar sistem pendidikan dan perlindungan anak lebih efektif.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan telah menerima laporan awal dan berkomitmen melakukan penyelidikan lebih mendalam untuk memahami akar penyebab tragedi ini serta memastikan langkah pencegahan ke depan.

Para pakar pendidikan dan pengamat sosial menilai peristiwa ini menunjukkan betapa rentannya anak-anak terhadap tekanan psikososial ketika kebutuhan dasar pendidikan tidak terpenuhi, sekaligus memunculkan diskusi tentang efektivitas program bantuan pendidikan di daerah terpencil.

(Ls/*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini