Kabarindo24jam.com | Jakarta –Peringatan Hari Kartini dimaknai sebagai momentum strategis untuk menegaskan kembali peran perempuan dalam memperkuat integritas dan transparansi di berbagai sektor. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai semangat perjuangan R.A. Kartini tidak hanya relevan dalam isu kesetaraan gender, tetapi juga selaras dengan upaya membangun budaya antikorupsi di Indonesia.
Perempuan dinilai memiliki posisi krusial sebagai agen perubahan, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun dunia kerja. Nilai kejujuran, keberanian, dan kepedulian sosial yang ditanamkan perempuan menjadi fondasi penting dalam membangun karakter antikorupsi sejak dini.
KPK menegaskan bahwa pemberantasan korupsi bukan semata tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan gerakan kolektif yang membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat. Dalam konteks tersebut, perempuan berperan strategis melalui pendidikan, advokasi, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati Iskak, menyampaikan bahwa integritas harus dimulai dari diri sendiri dan dijaga secara konsisten. Menurutnya, integritas seorang pemimpin akan tercermin dan menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya.
“Sebagai pimpinan perempuan, saya meyakini integritas pemimpin akan tercermin dan menjadi contoh bagi timnya. Namun, tantangan menjaga integritas tidak hanya hadir di lingkungan kerja,” ujar Yuyuk dalam keterangan resminya yang dikutip, Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan, meskipun budaya integritas telah terbangun di lingkungan KPK, tantangan terbesar justru kerap muncul di ruang domestik dan sosial. Di titik itulah konsistensi nilai benar-benar diuji. “Ketika kita konsisten antara apa yang diyakini, diucapkan, dan dilakukan, maka integritas akan tetap terjaga,” imbuhnya.
Senada, Direktur Jejaring Pendidikan (Jardik) KPK, Dian Novianti, menekankan bahwa integritas merupakan komitmen yang harus dijalankan setiap waktu. Integritas, kata dia, tidak berhenti pada wacana, melainkan harus tercermin dalam tindakan nyata. “Menjaga integritas adalah komitmen 24 jam, tujuh hari dalam seminggu. Integritas berarti melakukan hal yang benar meski tidak ada yang melihat,” jelas Dian.
Perspektif serupa disampaikan seniman Widi Mulia yang menilai nilai-nilai Kartini tetap hidup dan relevan hingga kini. Menurutnya, sosok Kartini masa kini adalah perempuan yang berani berbagi akses, membuka peluang, serta menolak praktik korupsi dalam setiap peran yang dijalankan. “Menjadi Kartini bukan soal menjadi sempurna, melainkan keberanian untuk berkontribusi dan menjaga integritas,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pembentukan integritas dimulai dari lingkup paling dasar, yakni keluarga. Penanaman nilai kejujuran dan tanggung jawab sejak dini menjadi kunci dalam membangun generasi antikorupsi.
Peringatan Hari Kartini, dengan demikian, tidak hanya menjadi refleksi historis, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan menuju masyarakat yang bersih dan berintegritas masih terus berlangsung. KPK mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat kolaborasi lintas sektor, guna mendorong peran perempuan sebagai pilar utama dalam mewujudkan Indonesia yang adil, transparan, dan bebas korupsi. (Adi)







