Kabarindo24jam.com | Jakarta – Rangkaian pertandingan terakhir babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 menghadirkan sejumlah laga ketat. Mesir memastikan tiket ke babak 16 besar setelah menyingkirkan Australia melalui adu penalti, Argentina harus bekerja keras sebelum mengatasi perlawanan debutan Cape Verde lewat babak tambahan waktu, sementara Kolombia kembali menunjukkan efektivitas permainan dengan menundukkan Ghana.
Pertandingan berlangsung sengit sejak awal. Mesir lebih dulu unggul melalui sundulan Emam Ashour, sebelum Australia menyamakan kedudukan lewat gol bunuh diri Mohamed Hany akibat tekanan dari situasi bola mati.
Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal dan babak tambahan usai. Penentuan dilakukan melalui adu penalti, di mana Mesir tampil lebih tenang dan menang 4-2 untuk memastikan langkah ke babak 16 besar. Kiper Australia Patrick Beach tampil impresif sepanjang pertandingan, namun Mesir lebih efektif saat eksekusi penalti.
Juara bertahan Argentina dipaksa mengerahkan kemampuan terbaiknya menghadapi Cape Verde yang tampil tanpa beban.
Lionel Messi membuka keunggulan Argentina sebelum Cape Verde dua kali berhasil menyamakan kedudukan. Lisandro Martínez sempat membawa Argentina kembali unggul pada babak tambahan, namun Sidny Lopes Cabral kembali menyamakan skor melalui gol spektakuler.
Gol penentu kemenangan akhirnya hadir pada menit ke-111 melalui situasi bola mati yang berujung gol bunuh diri Diney Borges setelah sundulan Cristian Romero mengenai dirinya.
Kemenangan dramatis 3-2 membawa Argentina melangkah ke babak 16 besar, sementara Cape Verde tetap mendapat apresiasi atas penampilan berani dalam debut mereka di putaran final Piala Dunia.
Kolombia kembali menunjukkan efisiensi permainan saat mengalahkan Ghana dengan skor tipis 1-0.
Gol semata wayang dicetak Jhon Arias pada menit ke-14. Setelah unggul, Kolombia mengendalikan jalannya pertandingan melalui organisasi pertahanan yang disiplin dan penguasaan permainan yang efektif.
Sepanjang laga, Kolombia menciptakan lebih banyak peluang dibanding Ghana, sementara lini belakang mereka mampu membatasi lawan sehingga nyaris tidak memperoleh kesempatan bersih di depan gawang.
Hasil tersebut memastikan Kolombia melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi Swiss.
Di tengah perhatian besar yang tertuju kepada tim-tim unggulan seperti Argentina, Brasil, Prancis, maupun Inggris, Kolombia justru melangkah secara konsisten tanpa banyak menjadi pusat perhatian.
La Tricolor tidak selalu menampilkan permainan paling atraktif, namun memperlihatkan keseimbangan antara pertahanan yang solid, organisasi permainan yang rapi, serta efektivitas dalam memanfaatkan peluang. Karakter tersebut membuat Kolombia menjadi salah satu tim yang terus berkembang sepanjang turnamen.
Hingga babak gugur, Kolombia mampu menjaga konsistensi hasil dan menunjukkan kedewasaan bermain ketika menghadapi lawan-lawan dengan karakter berbeda.
Pendekatan yang pragmatis namun disiplin menjadi salah satu faktor utama keberhasilan mereka menembus babak 16 besar.
Kolombia pertama kali tampil di putaran final Piala Dunia pada 1962. Prestasi terbaik mereka tercatat pada edisi 2014 di Brasil ketika mencapai babak perempat final.
Pada turnamen tersebut, James Rodríguez menjadi pencetak gol terbanyak dengan enam gol sekaligus meraih Sepatu Emas. Gol tendangannya ke gawang Uruguay juga kemudian dinobatkan sebagai Gol Terbaik FIFA tahun itu.
Dalam beberapa edisi terakhir, Kolombia dikenal sebagai salah satu kekuatan yang konsisten mewakili Amerika Selatan bersama Argentina, Brasil, dan Uruguay. Meski belum pernah mencapai semifinal, mereka kerap menjadi lawan yang sulit dikalahkan pada fase gugur.
(Ls/*)







