Karhutla Melanda Nabire, 279 Titik Panas Terdeteksi

Kabarindo24jam.com | NABIRE, PAPUA TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah Kabupaten Nabire, Papua Tengah, pada Kamis hingga Jumat, 20–21 Agustus 2026. Kebakaran memicu kepulan asap tebal dan mengganggu aktivitas masyarakat hingga operasional penerbangan di Bandara Douw Aturure Nabire.

Menurut pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nabire pada periode 20–21 Agustus 2026, terdapat 512 titik panas (hotspot) di wilayah Papua Tengah. Kabupaten Nabire menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yakni 279 titik atau sekitar 54,5 persen dari seluruh hotspot yang terpantau di provinsi tersebut.

Bacaan Lainnya

Dari 512 titik panas di Papua Tengah, sebanyak 94 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 409 titik kategori sedang dan sembilan titik kategori tinggi. Khusus Nabire, hotspot terdeteksi di sejumlah distrik, antara lain Wanggar, Yaro, Yaur, Uwapa, Nabire Barat, Makimi, Menou, Teluk Kimi, Dipa, Siriwo, Teluk Umar, Nabire dan Wapoga.

Penanganan kebakaran dilakukan oleh unsur gabungan. Polda Papua Tengah mengerahkan ratusan personel bersama Satuan Brimob untuk membantu pemadaman dan mencegah api meluas ke permukiman. Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga mengaktifkan posko penanganan darurat serta mengoordinasikan BPBD, Dinas Kehutanan, Dinas Kesehatan, kepolisian dan BMKG. Pemerintah daerah mengandalkan enam mobil pemadam gabungan dan dua armada kepolisian yang dimodifikasi untuk mendukung pemadaman.

Pada Jumat, 21 Agustus, jarak pandang di Bandara Douw Aturure sempat turun hingga di bawah 70 meter, jauh di bawah jarak pandang yang dibutuhkan untuk operasional penerbangan. Kondisi tersebut menyebabkan dua penerbangan terdampak dan bandara ditutup sementara sekitar pukul 15.30 WIT demi keselamatan penerbangan.

Asap disebut berasal dari kebakaran lahan di sekitar kawasan bandara, dengan titik kebakaran sekitar 70 meter dari pagar perimeter.
Di tengah informasi mengenai karhutla tersebut, beredar klaim bahwa sekitar 150 hektare lahan kelapa sawit di Nabire terbakar. Penelusuran silang hingga 22 Agustus 2026 menemukan adanya laporan di media sosial mengenai kebun kelapa sawit milik PT Nabire Baru di wilayah Yaro yang disebut ikut terbakar pada 21 Agustus.

Informasi tersebut belum disertai pengukuran luas area yang terbakar atau konfirmasi resmi dari BPBD, BNPB maupun instansi pemerintah terkait mengenai angka 150 hektare.
Karena itu, angka 150 hektare belum dapat dinyatakan sebagai luas lahan sawit yang terbakar.

Jumlah hotspot juga tidak dapat digunakan secara langsung untuk menghitung luas area terbakar karena satu hotspot merupakan indikasi anomali panas yang terdeteksi satelit, bukan satuan luas kebakaran.

Dengan demikian, data 279 hotspot di Nabire tidak berarti 279 titik tersebut setara dengan luasan tertentu dalam hektare. Dari sisi kesehatan, Dinas Kesehatan Papua Tengah menyatakan terdapat tren kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), meskipun belum dikategorikan signifikan. Pemerintah menyiapkan sekitar 60 ribu masker tiga lapis dan merencanakan distribusi rutin 1.000 masker per hari di sejumlah ruang publik dan fasilitas umum.

BMKG juga mengingatkan peningkatan risiko karhutla di Papua Tengah seiring kondisi yang lebih kering. Pemantauan menunjukkan jumlah hotspot di Nabire meningkat tajam dibanding periode sebelumnya.

BMKG meminta masyarakat menghentikan pembakaran untuk membuka lahan, membersihkan kebun maupun membakar sampah secara sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api baru.

(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *