Kabarindo24jam.com| KOTAWARINGIN BARAT, KALIMANTAN TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, pada Jumat, 18 September 2026. Kondisi di sejumlah lokasi menunjukkan kobaran api masih membutuhkan penanganan, sementara asap mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat.
Kobar yang disampaikan pemerintah daerah mencatat luas lahan terdampak karhutla mencapai 2.141,430 hektare hingga 18 September 2026. Salah satu lokasi yang masih menjadi perhatian berada di ruas Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, terutama sekitar kilometer 14 hingga kilometer 22.
Pada kawasan tersebut, kebakaran dilaporkan telah membakar sekitar 400 hektare lahan dan sebaran api masih meluas. Kebakaran bahkan telah mendekati kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Masoraian, sehingga penanganan terus dilakukan untuk mencegah api menjalar lebih jauh.
Asap Pekat Ganggu Jarak Pandang
Dampak karhutla tidak hanya berupa kerusakan lahan. Asap tebal juga menyebabkan jarak pandang di sejumlah ruas jalan menurun drastis.
Pemerintah daerah mengingatkan pengguna jalan di kawasan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama untuk meningkatkan kewaspadaan karena asap dapat mengganggu jarak pandang. Pada kondisi tertentu, jarak pandang dilaporkan dapat turun hingga sekitar dua meter di kawasan terdampak asap.
Kondisi udara di Pangkalan Bun juga masih terganggu. Asap dilaporkan tetap menebal meski sebelumnya sempat turun hujan gerimis di sejumlah wilayah. Kebakaran Juga Terjadi di Kawasan Tanjung Puting
Perkembangan karhutla juga terjadi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) yang berada di wilayah Kalimantan Tengah. Menurut pemantauan hingga 17 September 2026, luas kawasan TNTP yang terdampak kebakaran tercatat sekitar 4.524 hektare.
Salah satu lokasi yang masih mendapat penanganan adalah kawasan Sungai Sekonyer, Resort Pesalat, yang berada dalam wilayah administrasi Kotawaringin Barat. Kebakaran di lokasi tersebut telah berlangsung sejak 10 September dan luas area yang terbakar di lokasi itu diperkirakan sekitar 200 hektare. Penanganan menghadapi kendala berupa medan yang sulit dijangkau serta keterbatasan sumber air.
Angka 4.524 hektare tersebut merupakan akumulasi kawasan TNTP yang terdampak pada sejumlah lokasi, sehingga tidak tepat jika seluruhnya disebut sebagai satu titik kebakaran atau satu kobaran api. Pemerintah Perkuat Penanganan Pada 18 September,
BPBD Kabupaten Kotawaringin Barat juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui dukungan peralatan dan logistik kepada Masyarakat Peduli Api (MPA) di Desa Sebuai dan Desa Tanjung Putri. Peralatan yang diberikan antara lain mesin pompa air, selang pemadam, sepatu keselamatan, masker serta perlengkapan pendukung lainnya.
Sementara pemerintah daerah terus mengerahkan unsur gabungan untuk menangani titik-titik kebakaran yang masih aktif. Ancaman Karhutla Belum Berakhir Kondisi tersebut berlangsung ketika Kalimantan Tengah masih menghadapi tingginya risiko karhutla. Kementerian Kehutanan mencatat 102 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah berdasarkan pemantauan hingga 16 September 2026.
Data tersebut bersumber dari sistem SiPongi dan pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, serta NOAA-20. Kehutanan. Di Kotawaringin Timur, BMKG juga memperkirakan ancaman karhutla masih perlu diwaspadai karena September merupakan periode puncak musim kemarau setempat, sementara awal musim hujan diprakirakan baru memasuki dasarian II Oktober.
(Ls/*)







