Kabarindo24jam.com | PARIS, 13 Oktober 2026 – Gelombang demonstrasi pelajar sekolah menengah di Prancis kembali berlangsung pada Selasa (13/10), dengan aksi di sejumlah kota, termasuk Marseille, Paris, Lyon, Lille, Toulouse, dan Bordeaux. Gerakan yang memasuki pekan keempat ini dipicu keluhan mengenai kekurangan tenaga pengajar, kepadatan ruang kelas, serta kondisi fasilitas pendidikan yang dinilai membutuhkan perbaikan.
Di Marseille, demonstrasi dimulai di kawasan Canebière sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
Pelajar, mahasiswa, tenaga pengajar, dan sejumlah kelompok masyarakat turut bergabung dalam iring-iringan tersebut. Beberapa sekolah menengah mengalami pemblokiran, sedangkan sejumlah lokasi universitas dilaporkan ditutup hingga 15 Oktober.
Aksi di berbagai kota itu menunjukkan bahwa persoalan pendidikan telah berkembang menjadi gerakan yang melibatkan lebih dari satu wilayah.
Besarnya jumlah peserta di setiap kota tidak dapat disamakan tanpa data penghitungan yang terpisah.
Ratusan sekolah terdampak
Kementerian Pendidikan Prancis melaporkan sebanyak 214 sekolah menengah ditutup pada 13 Oktober akibat situasi yang berkaitan dengan demonstrasi.
Kementerian juga menyatakan 94,2 persen sekolah menengah tetap beroperasi. Angka penutupan dan tingkat operasional tersebut merupakan indikator berbeda dari jumlah sekolah yang aktivitasnya terganggu akibat pemblokiran atau pengaturan pembelajaran jarak jauh.
Sementara itu, organisasi Union Étudiante menyebut sekitar 90 persen dari kurang lebih 70 universitas di Prancis mengalami pemblokiran atau penutupan pada tengah hari.
Angka ini merupakan klaim organisasi mahasiswa dan tidak boleh diperlakukan sebagai statistik resmi pemerintah. Tuntutan terkait kondisi pendidikan. Aksi pelajar berawal dari keluhan mengenai keterbatasan tenaga pengajar dan fasilitas sekolah. Tuntutan yang berkembang mencakup penanganan kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, kondisi bangunan, serta beban jadwal belajar.
Pemerintah telah mengumumkan langkah untuk mengerahkan sekitar 3.000 tenaga pengajar berkualifikasi ke sekolah-sekolah yang paling membutuhkan. Pengumuman tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Édouard Geffray pada 9 Oktober. Meski demikian, serikat pelajar dan mahasiswa menyatakan akan melanjutkan mobilisasi. Mereka menilai langkah pemerintah perlu diikuti penyelesaian persoalan pendidikan yang menjadi dasar demonstrasi.
Laporan lapangan menyebut sebagian demonstrasi berlangsung damai, termasuk aksi di Marseille, Nantes, dan Strasbourg. Namun, bentrokan antara sebagian orang yang berada di sekitar aksi dan aparat kepolisian juga dilaporkan di sejumlah lokasi.
Di Lyon, Pihak berwenang setempat meminta penyelenggara membatalkan pawai setelah sekelompok orang dilaporkan merusak sejumlah tempat usaha dan sebuah stasiun pengisian bahan bakar serta terlibat bentrokan dengan polisi.
Kementerian Pendidikan Prancis mencatat 147 anggota tenaga pendidikan mengalami luka sejak gerakan tersebut dimulai.
Angka ini mencakup kejadian selama rangkaian aksi, bukan hanya pada 13 Oktober. Penggunaan kekuatan oleh aparat dalam pengendalian demonstrasi juga menjadi perhatian.
Pemerintah sebelumnya menangguhkan penggunaan jenis granat kejut tertentu setelah seorang pelajar mengalami cedera berat. Sejumlah insiden lain masih menjadi perhatian penyelidikan internal kepolisian.
Data korban, penangkapan, dan kerusakan harus dibaca berdasarkan periode serta sumber masing-masing. Tidak semua insiden dapat dikaitkan dengan seluruh peserta demonstrasi.
Greta Thunberg hadir di Saint-Denis
Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, hadir bersama pelajar di depan Lycée Paul-Éluard di Saint-Denis, kawasan pinggiran Paris, pada 13 Oktober.
Kehadirannya menjadi salah satu perkembangan yang menarik perhatian internasional terhadap gerakan tersebut. Thunberg menyatakan dukungan terhadap anak muda yang menuntut pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan. Kehadirannya tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh demonstrasi di Prancis berada di bawah satu organisasi atau kepemimpinan.
Pemerintah menghadapi tuntutan dan tekanan anggaran, serta menyatakan akan merespons persoalan yang disampaikan pelajar. Upaya pemenuhan kebutuhan pendidikan berlangsung di tengah tekanan anggaran negara, persoalan defisit, dan kenaikan biaya pembiayaan utang.
Perdebatan mengenai demonstrasi juga memasuki ruang politik nasional. Sejumlah tokoh politik menyampaikan sikap berbeda mengenai tuntutan pelajar, tindakan kepolisian, serta tanggung jawab atas kerusakan fasilitas.
Meski demikian, perkembangan demonstrasi tidak dapat dijadikan bukti bahwa pemerintah telah mengambil keputusan baru mengenai seluruh tuntutan peserta. Pelaksanaan kebijakan, penambahan tenaga pengajar, serta perkembangan penanganan insiden masih perlu dipantau.
Hingga laporan yang tersedia pada 13 Oktober 2026, demonstrasi masih berlangsung di sejumlah kota Prancis. Penutupan sekolah dilaporkan menurun dibandingkan pekan sebelumnya, tetapi mobilisasi pelajar dan mahasiswa belum berakhir.
(Los/*)






