Kabarindo24jam.com | PALANGKA RAYA, KALIMANTAN TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kalimantan Tengah hingga Selasa (1/9/2026). Sejumlah titik kebakaran dilaporkan berada di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, sementara petugas gabungan terus melakukan pemadaman dan pendinginan.
Di Kota Palangka Raya, pemerintah daerah memprioritaskan penanganan titik api yang mulai mendekati kawasan permukiman. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kobaran api di lahan kering dapat bergerak cepat, terutama ketika didukung angin dan vegetasi yang mudah terbakar.
Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Pulang Pisau. Pada Selasa (1/9), Bupati Pulang Pisau Ahmad Rifa’i turun langsung ke lokasi untuk membantu penanganan karhutla bersama jajaran pemerintah daerah, petugas gabungan dan relawan.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau. Kebakaran di wilayah tersebut telah berlangsung sejak akhir Agustus dan menjadi salah satu titik prioritas penanganan pemerintah. BNPB sebelumnya mengidentifikasi Tumbang Nusa sebagai lokasi yang perlu mendapat intervensi serius karena kebakaran berada di sekitar jalur transportasi penting Palangka Raya–Banjarmasin.
Perkembangan di lapangan juga menunjukkan bahwa ancaman karhutla tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang terbakar, tetapi juga dampaknya terhadap keselamatan warga, kualitas udara, jarak pandang dan aktivitas masyarakat. Sejumlah laporan pada Selasa menyebut kualitas udara di beberapa wilayah Kalimantan terdampak asap berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan status tanggap darurat bencana karhutla mulai 31 Agustus hingga 29 September 2026. Penetapan tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran kini ditempatkan dalam kerangka respons darurat lintas instansi.
Data BMKG menunjukkan risiko karhutla di Kalimantan Tengah masih tinggi memasuki awal September. Dalam pemantauan sebelumnya, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalteng meningkat dari 113 menjadi 352 titik pada 25 Agustus 2026. Asap juga terdeteksi menyebar di sejumlah wilayah Kalimantan.
Memasuki 1–6 September, BMKG menyebut Indonesia masih didominasi kondisi panas dan kering. Pemantauan 31 Agustus menunjukkan konsentrasi hotspot masih berada terutama di Kalimantan, sementara sebaran asap berpotensi meluas mengikuti pola angin.
Kondisi iklim tersebut menjadi faktor yang meningkatkan risiko kebakaran. BMKG sebelumnya memperingatkan bahwa El Niño kuat diperkirakan bertahan hingga awal 2027 dan periode Agustus–September menjadi salah satu fase yang perlu diwaspadai terhadap peningkatan kekeringan serta karhutla.
Upaya pengendalian juga dilakukan dari udara. Data operasi modifikasi cuaca BMKG mencatat kegiatan pembasahan gambut/penanganan karhutla di Kalimantan Tengah pada 26 Agustus–2 September 2026, dengan BNPB sebagai pengguna jasa.
Penegakan hukum berjalan
Di sisi lain, penanganan karhutla juga masuk ke ranah penegakan hukum. Polda Kalimantan Tengah menyatakan menangani 19 kasus dalam Operasi Aman Nusa II 2026 dan menetapkan 23 orang sebagai tersangka hingga 1 September. Proses hukum tersebut berjalan terpisah dari upaya pemadaman dan penanganan darurat di lapangan.
Dengan kondisi tersebut, situasi karhutla Kalteng hingga Selasa malam masih dinamis. Belum terdapat dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh permukiman di Kalimantan Tengah berada dalam kondisi terancam langsung, karena titik kebakaran tersebar di sejumlah wilayah dengan tingkat ancaman berbeda.
keberadaan api yang mendekati kawasan hunian di beberapa lokasi telah dikonfirmasi dan menjadi prioritas penanganan pemerintah daerah.
(Ls/*)







