Kabarindo24jam.com | SAMPIT, KALIMANTAN TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, pada Senin, 24 Agustus 2026. Kondisi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas karhutla, kabut asap, serta musim kemarau yang masih diperkirakan berlanjut hingga pertengahan September.
Salah satu kejadian yang mendapat perhatian terjadi di kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 8, ruas Sampit–Kota Besi, pada Senin petang. Kebakaran lahan di lokasi tersebut kemudian menyebabkan ruas jalan ditutup sementara pada Senin malam untuk memudahkan petugas melakukan pemadaman dan menjaga keselamatan pengguna jalan.
Kendaraan dari kedua arah dialihkan melalui jalur alternatif. Wakil Bupati Kotim Irawati dilaporkan turun langsung memantau penanganan di lokasi tersebut bersama unsur Satgas Karhutla, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim serta kepolisian.
401 kejadian hingga 20 Agustus
Skala persoalan karhutla di Kotim sebenarnya jauh lebih luas daripada satu titik kebakaran pada 24 Agustus.
Data BPBD Kotim hingga 20 Agustus 2026 mencatat 401 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 1.394 hektare.
Pada periode yang sama, akumulasi hotspot di Kotim mencapai 6.139 titik. Kecamatan Teluk Sampit menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 1.066 titik.
BPBD Kotim juga menyebut penanganan semakin sulit karena sebagian lokasi kebakaran berada jauh dari kawasan perkotaan. Medan, keterbatasan akses, sumber air dan karakter lahan gambut menjadi tantangan tersendiri.
Kebakaran gambut dapat memerlukan waktu pemadaman jauh lebih lama dibandingkan kebakaran biasa. Status tanggap darurat diperpanjang Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur pada Senin melakukan rapat koordinasi penanganan karhutla dan kekeringan di Rumah Jabatan Bupati.
Dalam rapat tersebut diputuskan status tanggap darurat karhutla dan kekeringan diperpanjang selama 20 hari, terhitung 27 Agustus hingga 15 September 2026.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan keputusan tersebut mempertimbangkan laporan Satgas Karhutla bahwa titik api masih bertambah serta prakiraan kondisi panas yang masih berlangsung hingga sekitar pertengahan September.
Pemerintah daerah juga menyatakan status tersebut akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan di lapangan. Rapat koordinasi itu melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD dan berbagai instansi terkait.
Kantor UPBU Kelas II H. Asan Sampit juga hadir karena asap karhutla berpotensi memengaruhi jarak pandang dan operasional penerbangan. Data hotspot Kalteng menunjukkan tekanan tinggi
Pada level Provinsi Kalimantan Tengah, Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan pada konferensi pers Senin, 24 Agustus, menyampaikan bahwa sejak Januari 2026 telah terdeteksi 22.203 hotspot.
Dari jumlah tersebut, 1.739 titik diidentifikasi sebagai firespot atau lokasi yang mengalami kebakaran, dengan luas lahan terbakar sekitar 4.920 hektare berdasarkan data yang disampaikan dalam konferensi pers tersebut.
Untuk kondisi pada hari yang sama, tercatat 858 hotspot, dengan 53 firespot dan luas areal terbakar 190,96 hektare. Kotawaringin Timur disebut sebagai kabupaten dengan luasan lahan terbakar tertinggi di Kalteng, sekitar 1.686 hektare dalam data provinsi tersebut.
Tercatat 19.992 hotspot dan 1.639 kejadian karhutla di tingkat provinsi.
Luasan yang telah ditangani tim darat mencapai 4.499,21 hektare, sementara analisis citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS Kementerian Kehutanan mengestimasi luasan terbakar mencapai 7.634,46 hektare.
Analisis BPB-PK Kalteng menunjukkan Agustus menjadi periode dengan peningkatan karhutla paling signifikan sepanjang 2026. Dalam 18 hari pertama Agustus saja tercatat 14.659 hotspot, 798 kejadian dan 2.824,42 hektare lahan terbakar menurut data yang dilaporkan pemerintah Provinsi Kalteng.
Kondisi udara Sampit sebelumnya telah tercatat dalam kategori Tidak Sehat pada pemantauan ISPU Net pemerintah. Sore hingga malam: Kebakaran lahan terjadi di kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 8, ruas Sampit–Kota Besi. Petugas gabungan melakukan penanganan dan akses jalan kemudian ditutup sementara untuk mendukung operasi pemadaman.
(Ls/*)







