Kabarindo24jam.com | Sejarah kawasan Jakarta Barat dan pesisir utara menunjukkan jejak kota perdagangan yang terbentuk dari jaringan kanal, komunitas pedagang, dan kampung-kampung lama sejak era Batavia.
Kawasan Tambora dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi di Jakarta. Kondisi tersebut tidak terlepas dari sejarah panjang kawasan ini yang telah berkembang sejak masa kota kolonial Batavia pada abad ke-17.
Secara geografis, Tambora berada tidak jauh dari jalur perdagangan lama serta pelabuhan bersejarah Pelabuhan Sunda Kelapa, yang sejak berabad-abad lalu menjadi pusat aktivitas ekonomi di wilayah pesisir utara Jawa.
Kedekatan dengan pelabuhan membuat kawasan ini sejak awal berkembang sebagai permukiman pekerja pelabuhan, pedagang, serta komunitas pendatang yang terlibat dalam aktivitas perdagangan.
Sejumlah kajian perkotaan mencatat bahwa kepadatan penduduk di beberapa bagian Tambora tergolong sangat tinggi. Hal ini terjadi karena luas wilayah yang relatif terbatas sementara populasi terus bertambah sejak masa kolonial hingga perkembangan kota modern.
Banyak permukiman di kawasan ini tumbuh dari kampung-kampung lama yang berkembang secara organik selama ratusan tahun.
Kota Kanal yang Terlupakan
Pada masa awal pembangunan Batavia oleh pemerintah kolonial Belanda, kota ini dirancang mengikuti konsep tata kota Eropa, terutama seperti Amsterdam. Sistem kanal dibangun untuk transportasi air, pengendalian banjir, serta sebagai bagian dari struktur pertahanan kota.
Jaringan kanal tersebut melintasi berbagai kawasan kota lama, termasuk wilayah yang kini menjadi bagian dari Jakarta Barat.
Namun dalam perkembangannya, kondisi lingkungan tropis membuat banyak kanal mengalami pendangkalan dan menjadi tempat genangan air yang berpotensi menimbulkan penyakit.
Pada abad ke-19, sejumlah kanal kemudian ditutup atau diuruk sebagai bagian dari upaya penataan kota dan penanggulangan wabah yang sering muncul di wilayah permukiman padat.
Sebagian jalur kanal lama kemudian berubah menjadi jalan atau kawasan permukiman yang masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Salah satu kanal bersejarah yang masih bertahan adalah Kali Besar, yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta dan menjadi saksi perkembangan Batavia sebagai kota pelabuhan penting pada masa lalu.
Di sekitar Tambora terdapat di kawasan Pekojan, yang memiliki sejarah panjang sebagai permukiman pedagang dari Asia Selatan. Nama Pekojan berasal dari istilah “Koja”, sebutan bagi komunitas pedagang Muslim dari India dan Gujarat yang datang ke Batavia dalam jaringan perdagangan internasional.
Kawasan ini pada masa lalu menjadi tempat tinggal para pedagang yang aktif dalam perdagangan rempah dan komoditas lainnya di Batavia. Hingga kini, jejak sejarah tersebut masih terlihat melalui keberadaan bangunan lama dan tempat ibadah yang menjadi bagian dari identitas kawasan.
Glodok dan Chinatown Jakarta,
tidak jauh dari Pekojan terdapat kawasan Glodok, yang dikenal sebagai pusat komunitas Tionghoa di Jakarta.
Bersama kawasan Petak Sembilan, wilayah ini berkembang menjadi pusat perdagangan, kuliner, dan budaya masyarakat Tionghoa.
Perkembangan kawasan tersebut tidak lepas dari peristiwa sejarah Pembantaian Batavia 1740, yang kemudian diikuti kebijakan penataan ulang permukiman oleh pemerintah kolonial.
Komunitas Tionghoa kemudian berkembang di wilayah di luar tembok kota Batavia yang kini dikenal sebagai Glodok.
Seiring waktu, kawasan tersebut menjadi salah satu pusat ekonomi dan budaya yang tetap bertahan hingga masa Jakarta modern.
Permukiman Pesisir Utara
Di wilayah Jakarta Utara, kawasan seperti Kapuk Muara berkembang dengan karakter berbeda. Wilayah ini sejak lama dikenal sebagai kawasan tambak dan kampung nelayan yang berada di jalur perdagangan laut di sekitar pesisir Batavia.
Pertumbuhan Jakarta pada abad ke-20 mendorong kawasan pesisir tersebut menjadi permukiman padat akibat urbanisasi dan aktivitas ekonomi di sekitar pelabuhan.
Warisan Kota Tua Jakarta
Sejarah kawasan Tambora, Pekojan, hingga Glodok menunjukkan bagaimana Jakarta bagian barat dan utara terbentuk dari jaringan komunitas perdagangan yang hidup berdampingan sejak masa Batavia.
Jejak sejarah tersebut masih terlihat melalui kampung-kampung tua, pasar tradisional, rumah toko, serta tempat ibadah yang menjadi bagian dari identitas kawasan hingga saat ini.
Sumber Sejarah dan Referensi
Informasi historis dalam artikel ini merujuk pada berbagai sumber sejarah dan penelitian mengenai perkembangan kota Batavia dan Jakarta, antara lain:
Arsip tata kota Batavia dan dokumentasi kolonial Belanda
Publikasi dari Arsip Nasional Republik Indonesia
Kajian sejarah kota dari Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
Literatur sejarah Jakarta karya Susan Blackburn dan Adolf Heuken
(Ls/*)







