TNI Angkatan Laut Mulai Terapkan Strategi Revolusioner Pengamanan Maritim Nasional

Kabarindo24jam.com | Jakarta – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) merespons gejolak energi global dan arahan efisiensi dari Presiden Prabowo Subianto. Untuk itu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali membeberkan strategi revolusioner pengamanan maritim nasional.

Menurutnya, TNI AL akan beralih secara masif dari kapal patroli konvensional ke penggunaan teknologi nirawak (drone) dan Kapal Selam Tanpa Awak (KSOT). Langkah ini diambil sebagai siasat untuk memangkas konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara drastis tanpa mengorbankan intensitas penjagaan kedaulatan maritim Indonesia.

Bacaan Lainnya

Dia secara terbuka mengakui bahwa gejolak di Timur Tengah telah memberikan tekanan langsung pada logistik operasional TNI AL. “Gejolak di Timur Tengah berdampak pada pasokan bahan bakar. Jadi drone ini sangat efektif dan efisien, karena dia juga bisa digerakkan dengan jarak yang cukup jauh untuk melaksanakan patroli dari udara maupun dari permukaan,” ujar KSAL dalam keterangannya yang dikutip, Senin (20/4/2026).

Penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan Unmanned Surface Vehicle (USV) dinilai mampu menghemat puluhan ribu liter BBM per patroli. Satu kapal patroli kelas ringan bisa menghabiskan hingga 1.500 liter solar per hari. Sebaliknya, drone maritim dapat beroperasi selama berjam-jam hanya dengan tenaga baterai atau mesin kecil berkapasitas efisien.

Lebih lanjut, Laksamana Ali mengungkap rencana besar TNI AL di masa depan yang akan semakin mengurangi jejak karbon sekaligus jejak anggaran. TNI AL tengah mematangkan rencana pengoperasian Kapal Selam Tanpa Awak (KSOT) untuk patroli bawah laut. “Bahkan nanti ke depan seperti KSOT yang kalian mungkin tahu juga, itu juga akan kita gunakan untuk di bawah air. Gitu,” imbuhnya.

Penggunaan KSOT ini menjadi krusial mengingat pengoperasian kapal selam konvensional berawak membutuhkan konsumsi solar dan dukungan logistik yang sangat masif. Dengan KSOT, area rawan penyusupan atau pencurian sumber daya alam di bawah laut dapat diawasi secara persistent surveillance dengan biaya operasional yang minimal.

Adapun perubahan doktrin operasional TNI AL ini merupakan implementasi langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna. Presiden menekankan bahwa meskipun Indonesia relatif aman, langkah proaktif penghematan adalah keniscayaan di tengah konflik Eropa dan Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

Dengan arahan tersebut, TNI AL menjadi matra pertama yang secara konkret menyatakan peralihan moda patroli dari fuel-based ke tech-based. Hal ini diproyeksikan tidak hanya menghemat anggaran negara hingga miliaran rupiah per tahun, tetapi juga meningkatkan radius pengawasan secara eksponensial. (Ifa/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *