Topan Dolphin Hantam China, Lebih dari 1 Juta Warga Dievakuasi, Penerbangan Shanghai Terganggu

Kabarindo24jam.com | ZHEJIANG – Topan Dolphin, yang ditetapkan sebagai topan ke-13 China pada 2026, menghantam pesisir Provinsi Zhejiang pada Minggu (9/8/2026), membawa angin kencang dan hujan lebat. Pemerintah China melakukan evakuasi besar-besaran sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman banjir, longsor dan gelombang tinggi.

Dolphin melakukan pendaratan pertama sekitar pukul 17.30 waktu setempat di wilayah Yuhuan, Taizhou, Zhejiang. Saat mencapai daratan, kecepatan angin maksimum di sekitar pusat badai dilaporkan mencapai sekitar 42 meter per detik atau sekitar 151 kilometer per jam. Sekitar satu jam kemudian, sistem badai tersebut kembali melakukan pendaratan di kawasan Yueqing, Wenzhou, sebelum bergerak lebih jauh ke daratan.

Bacaan Lainnya

Lebih dari 1 juta orang dievakuasi
Ancaman Dolphin mendorong otoritas China melakukan evakuasi dalam skala besar. Lebih dari satu juta orang dipindahkan dari wilayah yang dinilai berisiko terkena dampak langsung badai. Di Wenzhou, sekitar 900.000 orang dievakuasi, sementara hampir 100.000 lainnya dipindahkan dari wilayah terdampak di Provinsi Fujian.

Pemerintah juga menaikkan tingkat respons darurat dan mengeluarkan peringatan cuaca tingkat tinggi menjelang pendaratan Dolphin.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat, terutama di daerah pesisir dan kawasan yang rentan terhadap banjir serta longsor.

Transportasi China terganggu
Dampak badai juga dirasakan sektor transportasi. Di Shanghai, sekitar 1.500 penerbangan dibatalkan ketika Dolphin mendekati wilayah pesisir timur China. Sejumlah aktivitas pelabuhan dan transportasi laut turut dihentikan atau dibatasi demi keselamatan.

Di Zhejiang, layanan feri penumpang juga dihentikan sementara akibat kondisi laut dan angin yang memburuk. Gangguan perjalanan masih berlanjut setelah badai memasuki daratan karena hujan lebat dan kondisi cuaca yang belum sepenuhnya pulih.

Shanghai dilanda hujan dan genangan
Shanghai juga merasakan dampak sistem cuaca yang berkaitan dengan Dolphin. Hujan deras menyebabkan genangan di sejumlah lokasi dan mendorong petugas penyelamat serta aparat terkait melakukan penanganan di lapangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak topan tidak hanya dirasakan di lokasi pendaratan utama. Hujan lebat dan sistem cuaca yang menyertai badai dapat memengaruhi wilayah yang berada jauh dari pusat topan.

Sebelum mencapai China, Dolphin bergerak melintasi kawasan Pasifik barat dan menuju Kepulauan Ryukyu, Jepang. Okinawa juga mengalami dampak badai. Laporan mengenai wilayah tersebut mencatat adanya korban luka serta gangguan listrik yang memengaruhi puluhan ribu bangunan.

Dolphin kemudian bergerak menuju Laut China Timur sebelum mengarah ke pesisir Zhejiang. Salah satu karakteristik yang menjadi perhatian adalah perjalanan badai yang sangat panjang. Sistem tersebut dilaporkan menempuh sekitar 6.000 kilometer sebelum mencapai daratan China.

Selain angin, hujan deras menjadi salah satu ancaman terbesar setelah Dolphin memasuki daratan.
Wilayah Zhejiang dan sejumlah daerah di China bagian timur berpotensi mengalami hujan sangat lebat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko banjir perkotaan, luapan sungai dan longsor, khususnya di daerah dengan kondisi tanah yang sudah jenuh air.

Dampak cuaca juga tidak hanya berkaitan dengan Dolphin. Sebelum topan mencapai Zhejiang, sejumlah wilayah China, termasuk Beijing, telah mengalami hujan lebat.
Karena itu, otoritas China tetap memantau perkembangan sisa sistem Dolphin dan potensi interaksinya dengan sistem cuaca lain.

(Ariestia/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *