Kabarindo24jam.com | BANJARBARU, KALIMANTAN SELATAN – Kabut asap tebal menyelimuti Beberapa wilayah di Kalimantan Selatan pada Rabu, 19 Agustus 2026. Kondisi paling serius terpantau di sekitar Banjarbaru dan Kabupaten Banjar, ketika asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menurunkan jarak pandang hingga mengganggu aktivitas masyarakat dan operasional penerbangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan kualitas udara Banjarbaru mencapai kategori Berbahaya pada Rabu pagi. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 sempat mencapai sekitar 389,4 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang kategori Berbahaya. Kondisi tersebut berkaitan dengan tingginya konsentrasi partikulat di udara, kondisi atmosfer yang kering, serta tidak adanya curah hujan yang berarti dalam periode pengamatan.
Pada pagi yang sama, sebuah truk pengangkut sepeda motor mengalami kecelakaan di Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar.
Truk tersebut membawa puluhan sepeda motor baru dan mengalami kecelakaan hingga muatannya berhamburan ke jalan. Pengemudi dilaporkan mengalami luka dan telah mendapat penanganan medis.
Kondisi kabut asap memang terjadi di sekitar lokasi kecelakaan. Polisi masih melakukan pemeriksaan di lokasi untuk menentukan faktor penyebab kecelakaan. Karena itu, hubungan antara jarak pandang yang buruk dan kecelakaan tersebut harus diperlakukan sebagai faktor yang masih dalam penyelidikan.
Kabut asap juga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru. Data operasional bandara menunjukkan terdapat 12 penerbangan yang mengalami keterlambatan, terdiri dari empat penerbangan kedatangan dan delapan penerbangan keberangkatan. Penundaan terjadi karena jarak pandang tidak memenuhi kondisi yang diperlukan untuk operasional penerbangan.
Informasi terbaru menyebutkan penerbangan yang sebelumnya terdampak kemudian telah diberangkatkan setelah kondisi memungkinkan. Pengelola bandara juga mengimbau penumpang memperhitungkan waktu perjalanan dan datang lebih awal.
Kabut asap yang mencapai kondisi ekstrem pada 19 Agustus bukan merupakan fenomena yang muncul secara tiba-tiba pada hari yang sama. Aktivitas karhutla telah berlangsung selama periode musim kemarau. Data lokal yang tersedia mencatat 114 kejadian karhutla di Banjarbaru sejak Januari hingga Agustus 2026, dengan luas lahan terdampak sekitar 664 hektare. Angka tersebut merupakan data yang dilaporkan hingga pertengahan Agustus dan dapat berubah seiring pemutakhiran data lapangan.
Dalam prakiraan 18–24 Agustus, BMKG menyebut El Niño yang kuat turut mewarnai kondisi cuaca Indonesia, sementara sebagian besar wilayah masih berada dalam periode musim kemarau.
Kabut asap terbentuk ketika partikel hasil pembakaran biomassa—termasuk partikulat halus—terakumulasi di atmosfer. Ketika sumber kebakaran masih aktif, kondisi atmosfer kering, hujan minim, dan sirkulasi udara tidak cukup cepat mengencerkan atau memindahkan partikulat, konsentrasi asap di permukaan dapat meningkat.
BMKG menyediakan pemodelan sebaran partikulat yang memperhitungkan sumber asap serta parameter meteorologi seperti suhu, kelembapan dan angin. Dengan demikian, tingkat kepekatan asap di suatu lokasi dapat berubah dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan kebakaran dan kondisi atmosfer.
(Ls/*)







