Kabarindo24jam.com | JAKARTA – Kapal induk ringan eks Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, resmi memulai pelayaran menuju Indonesia pada Senin malam, 24 Agustus 2026. Kapal tersebut merupakan hibah Pemerintah Italia kepada Indonesia dan akan menjadi bagian dari penguatan kemampuan pertahanan maritim TNI Angkatan Laut.
Keberangkatan Giuseppe Garibaldi berlangsung setelah proses persetujuan hibah melalui parlemen Indonesia. Komisi I DPR RI sebelumnya menyetujui penerimaan kapal tersebut dalam rapat bersama pemerintah pada 20 Juli 2026.
Persetujuan kemudian dibawa ke Rapat Paripurna DPR RI pada 21 Juli 2026 dan disetujui sebagai bagian dari penerimaan alat peralatan pertahanan dan keamanan dari luar negeri.
Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali menyampaikan bahwa kapal berangkat dari Italia pada Senin malam sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Pelayaran menuju Indonesia diperkirakan berlangsung lebih dari tiga pekan, dengan perkiraan kedatangan antara 15 hingga 20 September 2026.
Dalam perjalanan menuju Indonesia, kapal tersebut akan menempuh rute lintas kawasan dan melewati jalur strategis internasional. Rincian teknis mengenai seluruh tahapan pelayaran dan pengamanan perjalanan kapal perang tersebut tidak seluruhnya dipublikasikan kepada masyarakat.
Setibanya di Indonesia, Giuseppe Garibaldi direncanakan mengalami proses pengalihan status dan nama menjadi KRI Gajah Mada. Rencana tersebut juga mencakup pengibaran bendera Indonesia dan proses pengukuhan kapal sebagai bagian dari kekuatan TNI Angkatan Laut.
Spesifikasi dan kemampuan
Giuseppe Garibaldi merupakan kapal induk ringan yang dibangun di galangan Monfalcone, Italia. Kapal memiliki panjang sekitar 180,2 meter, lebar maksimum dek penerbangan sekitar 30,4 meter, dan displacement penuh sekitar 13.850 ton.
Menurut data resmi Marina Militare, kapal ditenagai empat turbin gas Fiat/GE LM2500 dengan sistem COGAG dan menghasilkan daya sekitar 60,4 megawatt atau 81.000 horsepower.
Kecepatan maksimumnya mencapai sekitar 30 knot, sedangkan jangkauannya sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan 20 knot.
Sebagai kapal penerbangan, Garibaldi memiliki dek penerbangan penuh dan dirancang untuk mengoperasikan berbagai jenis helikopter. kapal juga pernah mengoperasikan pesawat tempur STOVL AV-8B Harrier II Plus. Marina Militare mencatat konfigurasi air wing dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasi.
Selain fungsi penerbangan, Garibaldi dirancang sebagai kapal komando dan dapat menjalankan misi dukungan operasi amfibi. Angkatan Laut Italia juga mencatat kapal tersebut memiliki sistem pertahanan dan persenjataan untuk mendukung kemampuan perlindungan dirinya.
kemampuan teknis kapal saat berada di bawah pengoperasian Indonesia perlu dibedakan dari konfigurasi ketika masih aktif bersama Angkatan Laut Italia. Kapal telah memasuki usia sekitar empat dekade sehingga diperlukan penyesuaian, pemeliharaan dan kemungkinan modernisasi sebelum seluruh kemampuan operasionalnya dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan TNI AL.
Secara klasifikasi, Giuseppe Garibaldi lebih tepat disebut light aircraft carrier atau kapal induk ringan. Kapal ini berbeda dari kapal induk besar bertenaga nuklir yang digunakan sejumlah negara seperti Amerika Serikat.
Desain Garibaldi lebih menitikberatkan pada pengoperasian pesawat STOVL dan helikopter serta fungsi komando dan dukungan operasi maritim. Marina Militare juga mencatat kapal tersebut dapat berperan sebagai Landing Helicopter Assault (LHA) dalam operasi yang melibatkan helikopter dan pasukan.
Pemberian Giuseppe Garibaldi merupakan bagian dari hubungan pertahanan Indonesia dan Italia. Di Indonesia, penerimaan kapal telah melalui mekanisme persetujuan DPR RI, sedangkan proses transfer dari pihak Italia juga telah mendapatkan persetujuan melalui mekanisme parlemen negara tersebut.
Kedatangan kapal ini akan menjadi tonggak baru bagi TNI AL karena Indonesia belum pernah mengoperasikan kapal induk jenis tersebut sebagai bagian dari armada nasional.
Meski demikian, keberadaan Giuseppe Garibaldi tidak secara otomatis berarti seluruh kemampuan kapal saat masih aktif di Italia langsung tersedia bagi Indonesia.
Tingkat kesiapan operasional akan bergantung pada kondisi kapal, proses pemeliharaan, penyesuaian sistem, kesiapan pangkalan, awak kapal, serta integrasi pesawat dan helikopter yang nantinya digunakan.
Dengan keberangkatan dari Italia pada 24 Agustus 2026, tahapan berikutnya adalah perjalanan menuju Indonesia dan proses penerimaan kapal.
Jika sesuai jadwal, Giuseppe Garibaldi akan tiba di Indonesia pada pertengahan hingga sekitar 20 September 2026 dan selanjutnya menjalani proses pengalihan menjadi KRI Gajah Mada.
(Ls/*)







