Kabarindo24jam.com | WASHINGTON – Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap sejumlah target militer Iran yang terkait dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada Selasa, 1 September 2026. Serangan tersebut dikonfirmasi langsung oleh U.S. Central Command (CENTCOM) dan kemudian diikuti serangan balasan Iran terhadap sasaran Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
CENTCOM menyatakan operasi dimulai pada 1 September dan menargetkan sejumlah fasilitas militer IRGC di Iran. Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menyebut sasaran mencakup sistem pertahanan udara, radar, aset dan fasilitas maritim, kemampuan peletakan ranjau laut, serta fasilitas komunikasi IRGC.
Menurut CENTCOM, serangan dilakukan setelah adanya dugaan upaya IRGC menyerang kapal komersial di Selat Hormuz serta personel militer Amerika Serikat yang berada di kawasan tersebut. Washington menyebut tindakan itu sebagai respons terhadap ancaman terhadap kepentingan dan personel AS.
CENTCOM menyatakan pasukannya telah menyelesaikan satu gelombang serangan terhadap target militer Iran.
Sasaran yang disebut secara resmi antara lain:
sistem pertahanan udara;
radar;
aset dan fasilitas maritim;
kemampuan peletakan ranjau laut;
fasilitas komunikasi IRGC.
CENTCOM tidak dalam pernyataan tersebut memberikan rincian jumlah rudal atau pesawat yang digunakan maupun total kerusakan pada masing-masing sasaran. Komando militer AS juga tidak mengumumkan jumlah korban Iran akibat operasi tersebut.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan serangan berkaitan dengan upaya Iran memasang ranjau di Selat Hormuz dan serangan rudal terhadap pangkalan Amerika di Yordania.
Trump mengatakan radar Iran juga menjadi sasaran.
Di sisi Iran, laporan media pemerintah menyebut serangan AS mengenai sejumlah lokasi di wilayah pesisir selatan Iran.
Associated Press melaporkan satu serangan mengenai sebuah rumah di kawasan Kuhestak, Provinsi Hormozgan, ketika berlangsung acara pernikahan. Pejabat lokal Iran mengatakan lima orang tewas dan sedikitnya 68 orang terluka, termasuk seorang anak di antara korban meninggal.
CENTCOM menyatakan mengetahui laporan korban sipil tersebut, tetapi menekankan bahwa informasi awal berasal dari media pemerintah Iran. Juru bicara CENTCOM mengatakan militer AS tidak menargetkan warga sipil.
Media pemerintah Iran juga melaporkan kerusakan di sejumlah lokasi lain, termasuk fasilitas di Qeshm Island, wilayah Sirik, jaringan listrik Hormozgan, serta area di sekitar Bandar Abbas.
Sebagian laporan tersebut belum memperoleh verifikasi independen.
Iran Melancarkan Serangan Balasan
Setelah serangan AS, IRGC menyatakan melancarkan serangan rudal balistik terhadap sasaran Amerika di Yordania.
IRGC mengklaim serangan diarahkan ke pangkalan Marinir AS di Yordania dan menimbulkan korban serta kerusakan militer.
Sebaliknya, militer Yordania menyatakan pertahanan udaranya mencegat 10 dari 13 rudal Iran yang memasuki wilayah udaranya. Tiga rudal lainnya jatuh di wilayah terbuka dan, menurut otoritas Yordania, tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.
Iran juga dilaporkan melancarkan serangan drone terhadap sasaran Amerika di Bahrain. Kuwait juga menyatakan militernya merespons aktivitas drone yang dianggap mengancam wilayahnya.
Eskalasi terbaru semakin memperburuk situasi pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Lalu lintas komersial di selat tersebut telah mengalami pembatasan serius. IRGC menyatakan serangan AS justru akan semakin memperketat pembatasan pelayaran, sementara Iran secara efektif telah menutup jalur tersebut bagi lalu lintas komersial dalam konflik yang berlangsung.
Situasi semakin rumit setelah dua kapal tanker yang berangkat dari kawasan Selat Hormuz dilaporkan mengalami serangan pada Senin. Gangguan tersebut menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong pelaku pasar mencari jalur serta sumber minyak alternatif.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Pada awal perdagangan Rabu, 2 September, harga Brent naik sekitar 0,92 persen menjadi US$95,52 per barel, sedangkan WTI naik 0,89 persen menjadi US$91,02 per barel. Pada perdagangan Selasa, kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya telah melonjak lebih dari US$4 per barel.
Amerika Serikat menyatakan operasi tersebut merupakan respons terhadap tindakan IRGC yang menurut Washington mengancam pelayaran komersial serta pasukan AS di kawasan
Iran, sebaliknya, menyatakan serangan AS merupakan agresi dan berjanji memberikan respons.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan Tehran siap kembali pada kesepakatan gencatan senjata sementara apabila Washington juga kembali memenuhi komitmennya. Perkembangan militer terbaru menunjukkan bahwa jalur menuju deeskalasi kembali menghadapi hambatan besar.
Reuters menyebut pertukaran serangan terbaru sebagai eskalasi paling serius dalam beberapa pekan, setelah konflik sempat relatif mereda selama sekitar satu bulan.
(Ls/*)







