Kabarindo24jam.com |JAKARTA – Video yang memperlihatkan sebuah kapal nelayan berukuran jauh lebih kecil berada sangat dekat dengan kapal kargo berukuran besar beredar luas di media sosial sejak 20 September 2026. Rekaman tersebut memperlihatkan situasi di atas kapal nelayan yang kemudian tampak miring tajam, sementara air laut masuk ke bagian geladak. Unggahan yang menyertai video mengaitkan kejadian itu dengan kapal bulk carrier berbendera Panama, FIRST MARGAUX, dan menyebut lokasi kejadian berada di sekitar Singapura.
Pemeriksaan terhadap rekaman yang diunggah dalam percakapan ini menunjukkan kapal besar yang terlihat di dalam video secara visual memiliki nama yang tampak terbaca sebagai FIRST MARGAUX. Rekaman juga memperlihatkan kapal nelayan berada sangat dekat dengan kapal besar tersebut dan kondisi awak di atas geladak dalam situasi yang tampak darurat.
video tidak menyediakan penanda waktu dan koordinat yang cukup untuk membuktikan secara mandiri bahwa kejadian tersebut berlangsung di perairan Singapura pada 20 September 2026. Identitas FIRST MARGAUX sendiri dapat diverifikasi melalui data pelacakan kapal. Kapal tersebut tercatat dengan IMO 9933250, MMSI 352002478, berbendera Panama, berukuran sekitar 229 meter panjang dan 32 meter lebar, serta berstatus cargo/bulk carrier. Data pelayaran yang tersedia menunjukkan kapal berangkat dari KEMEN, China, pada 10 September 2026 dengan tujuan TERNEUZEN, Belanda.
Data AIS publik yang tersedia juga mencatat FIRST MARGAUX berada di kawasan Selat Malaka pada 19 September 2026 pukul 02.36 waktu lokal, pada koordinat sekitar 2,55186 derajat lintang utara dan 101,52860 derajat bujur timur, dengan kecepatan 11,6 knot dan haluan 302,2 derajat. Setelah titik tersebut, layanan pelacakan yang diperiksa menunjukkan kapal berada di luar cakupan penerimaan mereka. Karena itu, posisi tersebut tidak dapat digunakan untuk memastikan posisi kapal pada saat video direkam beberapa waktu kemudian.
Kapal yang disebut dalam unggahan sebagai LU QING YUAN YU 108 juga dapat diverifikasi sebagai kapal nelayan berbendera China. Basis data Combined Regional Vessel Authorisation Tool mencatat nama tersebut dengan IMO 8686472, call sign BCJD8, panjang sekitar 43 meter, pelabuhan registrasi Qingdao dan jenis kapal longliner.
Data tersebut juga mencatat kapal berada dalam daftar otorisasi IOTC dengan masa berlaku hingga 31 Maret 2029. Global Fishing Watch mencocokkan LU QING YUAN YU 108 dengan MMSI 412331112, IMO 8686472 dan call sign BCJD8. Dengan demikian, nama kapal nelayan yang beredar dalam klaim tersebut memiliki identitas maritim yang dapat ditelusuri dan bukan sekadar nama yang muncul tanpa registrasi.
Sejumlah laporan daring pada 20 September menyebut rekaman tersebut sebagai tabrakan antara FIRST MARGAUX dan LU QING YUAN YU 108 di dekat Singapura. Salah satu laporan menyatakan kondisi kapal nelayan terlihat miring setelah kedua kapal berdekatan dan menyebut belum adanya informasi terkonfirmasi mengenai korban.
kronologi, ataupun penyebab kejadian. Hingga pembaruan verifikasi ini, penelusuran terhadap kanal resmi Maritime and Port Authority of Singapore (MPA) belum menemukan pernyataan yang secara spesifik mengonfirmasi FIRST MARGAUX dan LU QING YUAN YU 108 sebagai pihak dalam tabrakan pada 19–20 September 2026. MPA menjelaskan bahwa kecelakaan dan insiden maritim di perairan Singapura merupakan peristiwa yang harus dilaporkan kepada otoritas terkait, dan keterlibatan sebuah kapal dalam tabrakan termasuk kategori kejadian yang masuk dalam mekanisme pelaporan MPA dan Transport Safety Investigation Bureau (TSIB).
MPA juga memiliki preseden menerbitkan informasi publik mengenai kecelakaan laut di wilayah yurisdiksinya. Dalam insiden kapal suplai yang tenggelam setelah bertabrakan dengan landing craft pada Juni 2026, MPA menyebut secara terbuka pengerahan Police Coast Guard dan SCDF Marine Division serta perkembangan operasi pencarian dan penyelamatan.
Hal ini menunjukkan bahwa informasi resmi dapat memuat lokasi kejadian, respons darurat dan perkembangan korban ketika suatu insiden telah dikonfirmasi dan ditangani oleh otoritas Singapura. Untuk insiden yang sedang diverifikasi ini, belum tersedia konfirmasi resmi mengenai korban meninggal, korban luka, orang hilang, ataupun jumlah keseluruhan awak LU QING YUAN YU 108.
Demikian pula, belum
ada dasar terverifikasi untuk menyatakan kapal nelayan tenggelam.
Klaim mengenai keterlibatan kru Indonesia juga masih belum dapat dipastikan. Dalam rekaman terdengar suara yang oleh pengunggah dikaitkan dengan bahasa Indonesia. Namun, bahasa yang digunakan seseorang tidak dapat dijadikan bukti kewarganegaraan. Sampai ada keterangan resmi dari operator kapal, dokumen awak, otoritas China, otoritas Singapura atau pemerintah Indonesia, identitas dan kewarganegaraan orang yang merekam video sebaiknya tidak disimpulkan.
(Ls/*)







