Kabarindo24jam.com |Sumedang, 29 Juli 2026 – Kebahagiaan tak dapat disembunyikan dari wajah Purna Praja asal Papua Barat Daya, Jhosua Faitri Ick, usai resmi dilantik Presiden RI Prabowo Subianto bersama para lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan 2026.
Momen bersejarah itu menjadi kenangan istimewa, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarga yang selama bertahun-tahun setia mengiringi perjuangannya dengan doa.
Bagi Jhosua, pelantikan langsung oleh Presiden menjadi pengalaman yang belum pernah dirasakan angkatan-angkatan sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir.
“Kesan yang kami dapatkan tentunya sangat senang karena sudah beberapa tahun belakangan ini kami, khususnya IPDN, belum pernah dilantik langsung oleh Bapak Presiden,” ujar Jhosua usai mengikuti Pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII IPDN Tahun 2026 di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Rabu (29/7).
Ia mengaku, salah satu pesan Presiden yang paling membekas adalah pentingnya mengabdi kepada masyarakat tanpa membeda-bedakan siapa pun.
“Pesan yang saya ingat dari Bapak Presiden tadi yaitu kita sebagai lulusan pamong praja harus melayani masyarakat tanpa memandang bulu, melayani dengan tulus dan sepenuh hati demi kemajuan bangsa,” katanya.
Jhosua pun menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran Presiden yang dinilainya menjadi penghormatan besar bagi seluruh lulusan IPDN Angkatan 2026.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia karena telah melantik kami. Itu merupakan kesan terbaik bagi angkatan kami,” tuturnya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh dan pengabdian yang akan dijalankannya dapat menjadi bagian dari upaya membangun Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Dapat membangun Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Itulah harapan yang tentunya bangsa Indonesia inginkan bersama,” ucapnya.
Di balik keberhasilan Jhosua, tersimpan kisah panjang perjuangan yang dikenang sang ayah, Martinus Ick. Ia menceritakan bagaimana putranya harus melewati seleksi yang sangat ketat saat masih mewakili Provinsi Papua Barat, sebelum terbentuknya Provinsi Papua Barat Daya.
Menurut Martinus, saat itu Jhosua berhasil menjadi salah satu dari 48 peserta yang lolos dari Papua Barat. Secara nasional, puluhan ribu peserta mengikuti seleksi masuk IPDN sehingga persaingan berlangsung sangat kompetitif.
“Puji Tuhan, kami bersyukur karena semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Masuk kuliah di IPDN tidak semudah yang dibayangkan. Persaingannya sangat ketat,” kata Martinus.
Selama empat tahun menjalani pendidikan, keluarga hanya bisa mengiringi dari kejauhan. Meski tidak menyaksikan langsung setiap proses yang dijalani, mereka meyakini pendidikan di IPDN penuh tantangan dan tempaan disiplin.
“Hari ini kami bersyukur kepada Tuhan. Proses pendidikan selama empat tahun cukup berat. Kami tidak melihat secara langsung, tetapi kami mengimani bahwa perjalanannya memang cukup berat,” ujarnya.
Rasa syukur keluarga semakin lengkap karena pelantikan dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, sesuatu yang menurut Martinus menjadi kehormatan luar biasa bagi para lulusan maupun orang tua.
“Menurut pandangan kami, pada tahun-tahun sebelumnya yang melantik biasanya Bapak Menteri atau perwakilan. Namun hari ini Presiden datang langsung melantik anak kami bersama teman-temannya. Itu merupakan penghormatan yang sangat luar biasa bagi kami sebagai orang tua, terlebih bagi anak-anak yang hari ini resmi dilantik oleh Bapak Presiden. Kami bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada Bapak Presiden,” ungkapnya.







