Kabarindo24jam.com | BOGOTA – Tim penyelamat di Kolombia masih berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang kemungkinan tertimbun reruntuhan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat negara itu pada Senin (10/8/2026).
Laporan terbaru dari wilayah terdampak pada Selasa (11/8) menyebut sedikitnya 254 orang meninggal dunia, dengan Pereira dan Cali menjadi dua kota yang mencatat jumlah korban terbesar.
Data yang dihimpun dari pemerintah daerah menempatkan korban tewas di Pereira sebanyak 101 orang dan Cali 95 orang. Angka tersebut masih dapat berubah seiring proses identifikasi dan evakuasi berlangsung.
Gempa terjadi di kawasan barat Kolombia dengan pusat gempa berada di sekitar San José del Palmar, Departemen Chocó. Getaran kuat dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan pusat produksi kopi Kolombia. Hampir 100 gempa susulan tercatat hingga Selasa pagi, menambah risiko bagi bangunan yang telah mengalami kerusakan.
Rumah dan Bangunan Rusak
Badan kemanusiaan PBB (OCHA) memperkirakan sekitar 5.000 rumah mengalami kerusakan. Puluhan bangunan dilaporkan runtuh, sementara ratusan rumah lainnya mengalami kerusakan berat atau hancur.
Di Cali, sebagian bangunan rumah sakit ikut runtuh. Beberapa lantai bagian atas rumah sakit yang mencakup fasilitas perawatan anak dilaporkan ambruk. Direktur rumah sakit mengatakan sejumlah pasien sempat terjebak, sementara sekitar 600 pasien harus mendapatkan penanganan di luar gedung karena kondisi fasilitas kesehatan terdampak.
Data awal pemerintah yang dikutip sejumlah laporan juga mencatat kerusakan pada 18 fasilitas kesehatan dan 52 sekolah, serta sedikitnya 61 bangunan runtuh. Angka-angka tersebut merupakan data pada tahap awal pendataan dan masih dapat diperbarui setelah tim penilai kerusakan menyelesaikan pemeriksaan lapangan.
Enam Bandara Ditutup
Kerusakan juga mengganggu konektivitas udara di wilayah barat Kolombia. Pihak petugas penerbangan sipil menutup sementara enam bandara, yakni Quibdó, Pereira, Manizales, Armenia, Cartago dan Buenaventura. Gangguan juga terjadi pada jaringan jalan, listrik, air bersih, layanan kesehatan serta komunikasi, terutama di wilayah Chocó yang berada dekat pusat gempa.
Kondisi tersebut memperlambat pengiriman bantuan dan menyulitkan proses pencarian korban.
Ribuan Orang Masih Dicari
Jumlah orang yang belum dapat dihubungi terus menjadi salah satu persoalan terbesar dalam operasi tanggap darurat.
Beberapa laporan menyebut ribuan orang masih dinyatakan hilang, termasuk angka sekitar 3.800 orang yang beredar dalam pembaruan lapangan. Angka tersebut belum dapat dianggap sebagai jumlah resmi final korban hilang. Gangguan komunikasi, kerusakan infrastruktur dan proses pencocokan data keluarga membuat pendataan masih berlangsung.
Reuters melaporkan bahwa pemerintah memperkirakan diperlukan beberapa hari untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai skala kerusakan dan jumlah korban.
Tim penyelamat menggunakan alat berat, ekskavator, derek dan peralatan pemotong untuk membuka tumpukan beton dan baja. Di sejumlah lokasi, penyelamat bahkan menggunakan tangan untuk memindahkan puing ketika khawatir penggunaan alat berat dapat membahayakan korban yang masih hidup.
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella, yang baru beberapa hari menjabat ketika gempa terjadi, telah menetapkan status bencana nasional dan mengerahkan sumber daya pemerintah untuk mempercepat operasi penyelamatan serta penanganan korban.
Pemerintah juga menyiapkan langkah bantuan ekonomi bagi masyarakat terdampak di wilayah Risaralda. De la Espriella mengatakan langkah tersebut dimaksudkan untuk membantu masyarakat melewati fase awal setelah bencana.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump terus memantau situasi dan siap mendukung rakyat Kolombia serta pemerintahan Presiden Abelardo de la Espriella.
Pernyataan Rubio disampaikan setelah gempa terjadi pada 10 Agustus. Dalam pernyataan tersebut, Rubio juga meminta warga negara AS yang berada di Kolombia mengikuti informasi dari Kedutaan Besar AS dan mendaftarkan diri dalam Smart Traveler Enrollment Program untuk memperoleh pembaruan keselamatan.
Dukungan tersebut kemudian berkembang menjadi komitmen bantuan kemanusiaan. Pemerintah AS mengalokasikan sekitar US$15,5 juta untuk kebutuhan darurat Kolombia, termasuk tempat tinggal sementara, makanan, perlindungan serta penilaian kerusakan.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari respons internasional terhadap bencana. Bank Pembangunan Inter-Amerika juga menyatakan telah menyediakan US$50 juta untuk dukungan rekonstruksi apabila diminta pemerintah Kolombia.
Dengan komunikasi yang belum sepenuhnya pulih di sejumlah wilayah, terutama dekat pusat gempa di Chocó, pemerintah Kolombia masih melakukan verifikasi jumlah korban, kerusakan bangunan dan kebutuhan bantuan.
Prioritas utama operasi saat ini adalah menyelamatkan korban yang masih mungkin hidup, mengevakuasi korban dari bangunan runtuh, memberikan pelayanan medis serta memastikan distribusi bantuan ke wilayah yang aksesnya paling sulit.
Pemerintah memperingatkan bahwa angka korban dan kerusakan kemungkinan masih berubah dalam beberapa hari ke depan karena proses pencarian, identifikasi korban dan pendataan infrastruktur belum selesai.
(Ls/*)







