Kabarindo24jam.com | Jakarta – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mewanti-wanti para prajurit dan perwira TNI tentang perubahan bentuk ancaman terhadap pertahanan negara. Menurutnya, pertempuran masa kini tak lagi cuma adu fisik di lapangan, tapi sudah merambah ke ruang siber hingga kognitif alias pikiran manusia.
Laksamana Ali menyebut situasi global dan regional saat ini bergerak sangat cepat dan makin sulit ditebak. Selain persaingan geopolitik dan perang siber, ancaman kejahatan lintas negara hingga risiko bencana alam di laut juga terus mengintai. Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, maka TNI AL menjadikan doktrin ‘Jalesveva Jayamahe’ sebagai benteng utama.
“Menghadapi perkembangan tersebut, doktrin TNI AL Jalesveva Jayamahe menjadi salah satu landasan dalam memahami peran, fungsi, dan tugas TNI AL serta menghadapi perubahan karakter ancaman yang berkembang menuju perang hibrida multidimensi, meliputi dimensi fisik, maya, dan kognitif,” kata Ali, dikutip dari keterangan Dispenal, Jumat (2/10/2026).
Laksamana Ali menegaskan, fenomena perang hibrida membuat bentuk ancaman jadi serba campur aduk. Musuh bisa saja menyerang jaringan komunikasi lewat siber, memutarbalikkan informasi buat memengaruhi persepsi publik, sekaligus melancarkan serangan militer.
Untuk menahannya, TNI AL menerapkan strategi pertahanan defensif aktif. Caranya dengan terus memperkuat Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT), baik untuk Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Sebab menurut KSAL, prajurit TNI AL tak cuma bertugas buat bertempur di laut.
“TNI AL melaksanakan tugas di bidang pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut sesuai ketentuan hukum nasional dan internasional, melaksanakan diplomasi Angkatan Laut, serta pemberdayaan wilayah pertahanan laut,” ujar Ali menekankan peran multidimensi prajuritnya.
Laksamana Ali juga menekankan pentingnya menjaga soliditas antara TNI dan Polri. Ali menyebut sinergi lintas matra menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas keamanan negara. Ia meminta para perwira TNI punya jiwa kepemimpinan yang kuat dan berani mengambil keputusan di lapangan. “Jaga kekompakan, soliditas, dan solidaritas antarmatra TNI dan Polri, serta menjadi pemimpin yang berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab,” kata Ali
KSAL juga mengingatkan pentingnya mengembangkan potensi diri dan memperkuat kerja sama antarsistem (interopabilitas) demi menjaga integrasi TNI. “Sinergi dan kolaborasi antarmatra TNI, kementerian dan lembaga, serta seluruh komponen bangsa juga menjadi prasyarat dalam mewujudkan strategi pertahanan negara,” imbuh Ali. (Cky/*)







