PCI Muhammadiyah Jepang Gelar Kajian Harmoni Iman di Negeri Sakura

Kabarindo24jam.com |Tokyo – Menjaga harmoni di tanah rantau mengharuskan WNI dapat beradaptasi dengan budaya lokal, menghormati hukum setempat, dan aktif membangun komunikasi yang baik dengan sesama perantau maupun warga sekitar. Dalam kehidupan diaspora Muslim di Jepang, kebutuhan akan ibadah serta mengedepankan akhlak yang baik harus mampu berjalan seiringan dalam kehidupan di tengah warga Jepang,” demikian disampaikan Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo Muhammad Al Aula saat pembukaan Tabligh Akbar Safari Dakwah yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Muhammadiyah Jepang, dan Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Tokyo di Balai Indonesia, pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kegiatan ini menghadirkan penceramah, Asisten Divisi Fatwa Majelis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah, Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A.

Bacaan Lainnya

“Menetap di negeri minoritas Muslim tentu ada banyak hal yang harus mampu disesuaikan agar dapat hidup berdampingan bersama dalam kehidupan sehari-hari bersama warga Jepang. Menjaga ketertiban, mengikuti aturan dan menjaga kebersihan dimanapun berada adalah keseharian warga Jepang yang semestinya juga bukanlah hal asing bagi umat Muslim sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Warga Jepang di sekitar kita tentu akan melihat apa yang kita lakukan dan kenakan. Jika kita mengenakan busana yang menunjukkan identitas ke-Islaman tentu harus kita jaga dengan bersikap sesuai ajaran Islam. Proses komunikasi baik langsung maupun tidak langsung harus mampu dibangun dengan menjaga citra ke-Islaman Indonesia yang positif dan dapat diterima dengan baik di tengah warga Jepang. Termasuk dalam hal beribadah. Salat lima waktu adalah wajib dilakukan dimanapun kita berada, namun tetap menyesuaikan dengan keadaan dan situasi dan kondisi dimana kita berada,” ujar Al Aula.

“KBRI Tokyo senantiasa memberikan dukungan terhadap segenap aktifitas dari komunitas WNI di Jepang. Ada lebih dari 260 ribu warga Indonesia di Jepang dari berbagai latar belakang agama dan aktivitas. Teman-teman semua adalah duta bangsa Indonesia di Jepang. Tunjukkan bahwa kita semua adalah bangsa yang tertib taat hukum dan siap bersahabat dengan siapapun,” tambahnya.

Ketua Panitia Tabligh Akbar Safari Dakwah Moch. Zamzam Rajab Awaluddin mengapresasi dukungan dari KBRI Tokyo atas penyelenggaraan kegiatan ini.

“PCI Muhammadiyah Jepang berupaya membantu Muslim Indonesia di Jepang dapat dengan tenang menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik di negeri Sakura sambil tetap menjalani beribadah dengan hati tenang. Atas dasar itulah kami gelar kegiatan ini untuk kita belajar bersama dalam beribadah di negeri minoritas Muslim. Terima kasih atas dukungan dari KBRI Tokyo,” terangnya.

Ustadz Nur Fajri Romadhon dalam ceramahnya menekankan Islam memberikan kemudahan bagi umat Muslim dalam beribadah meski berada di negeri minoritas Muslim.

“Ada kaidah dari Imam Asy-Syafi`I yang menyebutkan, kalau seandainya situasi sulit maka Islam memberikan kelonggaran. Kalau situasi sudah melonggar maka Islam kembali ke aturan-aturan semula. Saat kita di negeri minoritas memang ada aturan-aturan fiqih yang berbeda penerapannya di negeri Islam mayoritas. Ini juga berangkat dari perintah Allah dalam Surat At-Taghabun ayat 16, Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Kalau memang beberapa situasi tidak memungkinkan maka ada pembahasan terkait salat, makanan, pakaian yang bisa disesuaikan selama kita ada di Jepang. Pada akhirnya kita punya amanah untuk memaksimalkan potensi kita menyebarkan kebaikan kepada seluruh umat manusia termasuk di Jepang,” terang Ustadz Nur Fajri Romadhon.

Sejumlah peserta dari kegiatan ini mengungkapkan pengalaman mereka selama tinggal di Jepang. Khususnya terkait beradaptasi ditengah lingkungan warga Jepang.

“Sulit sih engga ya. Mungkin di awal saya coba adaptasi dengan lingkungan saya. Jadi pelan-pelan sambil sedikit demi sedikit membuat orang di sekitar kita paham dengan ritme ibadah yang kita jalani” kata Fani Lupita seorang pekerja dan mahasiswi yang sudah 13 tahun di Jepang.

“Awalnya berat ya. Karena terkait dengan tempat beribadat yang tidak ada di tempat aktifitas saya. Belum lagi soal makanan halal. Tapi Alhamdulillah lambat laun dapat teratasi,” tutur Okvianingsih yang sudah 12 tahun tinggal bekerja di Jepang.

Kegiatan Tabligh Akbar Safari Dakwah bertemakan Harmoni Iman, Ilmu dan Amal di Negeri Sakura yang digelar pada 1-12 Agustus 2026 ini digelar tidak hanya di Tokyo melainkan juga di Fukuoka, Yokohama, Osaka, Hiroshima, Kyoto, Nagoya dan Hokkaido.

*Sumber KBRI Tokyo*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *