Peringatan 1 Muharam di Indonesia Diwarnai Kegiatan Religius dan Budaya Lokal

Kabarindo24jam.com | Jakarta datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan 1 Suro dalam penanggalan Jawa, berbagai daerah di Indonesia kembali bersiap menggelar tradisi keagamaan dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Di sejumlah wilayah Jawa, momentum pergantian tahun tidak hanya dimaknai sebagai awal kalender baru, tetapi juga sebagai waktu untuk refleksi diri, doa bersama, ziarah, serta pelestarian warisan budaya leluhur.

Bacaan Lainnya

Di Cirebon, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada kawasan keraton dan kompleks makam tokoh penyebar Islam di tanah Jawa.

Tradisi ziarah ke kompleks makam Sunan Gunung Jati menjadi salah satu kegiatan yang ramai dilakukan masyarakat menjelang 1 Muharam. Selain berdoa, peziarah datang untuk mengenang peran ulama dan tokoh penyebar Islam yang berpengaruh dalam sejarah perkembangan Islam di wilayah pesisir utara Jawa.

Di lingkungan keraton Cirebon, tradisi jamasan atau pencucian pusaka juga dikenal sebagai bagian dari rangkaian penyambutan tahun baru.
Benda-benda pusaka seperti keris, tombak, dan berbagai peninggalan sejarah dibersihkan sebagai simbol pemeliharaan warisan budaya sekaligus refleksi spiritual.

Sejumlah kalangan budaya menjelaskan bahwa tradisi tersebut lebih dimaknai sebagai penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai leluhur, bukan sebagai ritual keagamaan yang bersifat wajib.
Tradisi serupa juga dijumpai di berbagai daerah lain di Pulau Jawa.

Di Banyuwangi, Jawa Timur, malam 1 Suro kerap diwarnai kegiatan tirakatan, doa bersama, hingga ritual budaya yang berlangsung di sejumlah lokasi yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat setempat.

Beberapa kawasan seperti Alas Purwo dan sejumlah situs budaya lainnya sering menjadi tujuan masyarakat yang menjalankan tradisi refleksi diri dan perenungan.

Sementara itu di berbagai wilayah Jawa Barat, termasuk Garut, masyarakat umumnya memperingati Tahun Baru Islam melalui kegiatan religius seperti pengajian, pawai obor, dzikir bersama, santunan sosial, hingga ziarah makam ulama setempat.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai kebersamaan dan mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Secara historis, 1 Suro dalam tradisi Jawa bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah. Pergantian tahun ini merupakan hasil perpaduan sistem penanggalan Jawa dan Islam yang diperkenalkan pada masa pemerintahan Sultan Agung Mataram pada abad ke-17.

Hingga kini, malam 1 Suro masih dipandang sebagai momentum introspeksi dan penguatan nilai spiritual oleh sebagian masyarakat Jawa.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia, 1 Muharam 1448 Hijriah jatuh pada hari ini, 16 Juni 2026 dan menjadi penanda dimulainya tahun baru Islam bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Berbagai daerah diperkirakan kembali menggelar kegiatan keagamaan, budaya, dan sosial sesuai tradisi masing-masing.

(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *