Trump Balik Tuntut Iran Bayar Reparasi, Negosiasi Selat Hormuz Makin Sulit

Kabarindo24jam.com | WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (10/8/2026) mengatakan Iran harus membayar kompensasi atas kematian dan luka yang menurutnya disebabkan tindakan Iran selama puluhan tahun, membalas tuntutan Tehran agar Washington membayar kerusakan akibat perang lima bulan terakhir.

Pernyataan tersebut menambah persoalan baru dalam upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Iran sebelumnya mengatakan pembukaan kembali selat itu bergantung pada sejumlah tuntutan politik dan ekonomi, termasuk kompensasi dari Amerika Serikat.

Bacaan Lainnya

Trump: Jika Ada Kerusakan, Iran Harus Membayar
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengatakan tuntutan Iran mengenai kompensasi justru membuat Amerika Serikat akan mengajukan tuntutan serupa.
“Kami akan meminta uang untuk kerusakan yang mereka lakukan selama periode 50 tahun,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa jika memang ada kerusakan yang harus dibayar, menurutnya Iran yang harus membayar.

Trump mengatakan tuntutan tersebut akan mencakup orang-orang yang tewas atau mengalami luka berat akibat serangan dan konflik yang menurutnya terkait dengan Iran.
Dalam unggahan di Truth Social pada hari yang sama, Trump mengatakan pemerintahannya akan memasukkan tuntutan kompensasi tersebut ke dalam setiap perundingan mendatang dengan Iran.

Ia menyebut antara lain keluarga 17 personel Angkatan Laut AS yang tewas dalam serangan terhadap USS Cole pada Oktober 2000, serta korban dari berbagai konflik dan serangan lain yang menurutnya terkait dengan Iran.

Namun, serangan USS Cole secara luas dikaitkan dengan jaringan al-Qaeda, bukan pemerintah Iran.
Trump juga menuntut kompensasi bagi keluarga demonstran Iran yang tewas dalam tindakan represif pemerintah Iran. Ia menyebut angka 52.000 orang tewas dalam lima bulan terakhir.

Angka tersebut merupakan klaim Trump dan belum dapat diperlakukan sebagai angka korban yang terverifikasi secara independen. Trump telah menggunakan angka 52.000 tersebut dalam sejumlah pernyataan sebelumnya mengenai korban protes di Iran.
Iran Lebih Dulu Menuntut Kompensasi
Tuntutan Trump muncul setelah Iran pada pekan sebelumnya menetapkan sejumlah syarat bagi pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pada Sabtu (8/8), Iran mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran baru di Selat Hormuz telah mendekati kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa kesepakatan teknis dengan Oman saja tidak cukup untuk membuka kembali jalur tersebut.
Iran kemudian menyampaikan enam tuntutan utama kepada Washington.

Tuntutan tersebut mencakup penghentian ancaman terhadap Iran, penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya, pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, penarikan pasukan AS dari sekitar Iran, kompensasi atas kerusakan akibat perang, pencabutan sanksi, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan.

Tehran juga mengatakan pembukaan Hormuz tidak akan dilakukan hanya berdasarkan kesepakatan baru dengan Oman. Iran menginginkan penyelesaian terhadap persoalan politik dan ekonomi yang lebih luas terlebih dahulu.

Dari Kesepakatan Juni ke Kebuntuan Baru
Perselisihan terbaru itu merupakan kemunduran dari kerangka gencatan senjata yang dicapai Amerika Serikat dan Iran pada Juni.
Pada 15 Juni, kedua pihak menyepakati sebuah memorandum awal yang dimaksudkan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap.

Kesepakatan tersebut memberi ruang sekitar 60 hari untuk merundingkan penyelesaian permanen.
Namun, sejumlah persoalan utama tidak terselesaikan, termasuk program nuklir Iran, sanksi AS, pengaturan Selat Hormuz dan hubungan Iran dengan kelompok bersenjata regional.

Pada akhir Juni, Iran menolak bertemu langsung dengan utusan AS dan mengatakan sejumlah persoalan dalam kesepakatan sementara harus diselesaikan terlebih dahulu. Tehran juga menegaskan haknya untuk mengelola lalu lintas di Hormuz bersama Oman.

Menurut laporan Reuters, gencatan senjata tersebut kemudian semakin rapuh. Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran yang berkaitan dengan Iran pada Juli, sementara Iran melakukan serangan balasan terhadap sejumlah sasaran AS dan sekutunya serta kapal komersial yang melintas di kawasan tersebut.

Negosiasi Hormuz Masih Berjalan, tetapi Belum Ada Kesepakatan Pembukaan Hingga Selasa (11/8), pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai mekanisme pelayaran di Selat Hormuz disebut berada pada tahap lanjut.

Qatar mengatakan pembicaraan Oman-Iran telah memasuki tahap yang lebih maju. Iran sendiri menyebut pembahasan mengenai jalur pelayaran baru hampir selesai, tetapi masih terdapat persoalan politik yang menghambat pembukaan penuh selat tersebut.

Iran menyatakan komunikasi dengan AS berlangsung secara tidak langsung melalui perantara, sementara Tehran dan Washington belum kembali melakukan perundingan langsung secara resmi.

Situasi itu membuat tuntutan baru Trump mengenai reparasi menjadi persoalan tambahan. Reuters menilai tuntutan tersebut berpotensi memperumit upaya mencapai kesepakatan untuk membuka Hormuz. Lalu Lintas Kapal Masih Sangat Rendah. Dampak kebuntuan terlihat dari aktivitas pelayaran.

Data yang dikutip Reuters menunjukkan hanya enam kapal melintasi Selat Hormuz pada Senin, dibandingkan rata-rata sekitar 11 kapal dalam 10 hari sebelumnya. Sebelum perang, sekitar 130 hingga 140 kapal biasanya melintas setiap hari.

Arus ekspor minyak dan produk olahan melalui Hormuz juga turun menjadi sekitar 3 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 7 Agustus, dari sekitar 4,4 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Sebelum konflik dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia biasanya melewati selat tersebut.

Ketidakpastian mengenai pembukaan Hormuz turut meningkatkan tekanan pada pasar energi. Harga minyak melonjak lebih dari 5 persen pada Senin setelah Trump mengumumkan tuntutan kompensasi terhadap Iran. Pada Selasa, harga sedikit terkoreksi setelah muncul laporan bahwa pembicaraan Oman-Iran masih berlangsung.

Pada 13.17 GMT Selasa, Brent berada di sekitar US$87,22 per barel, turun 0,57 persen, sementara West Texas Intermediate berada di sekitar US$81,77, turun 0,44 persen. Brent sebelumnya sempat menyentuh sekitar US$90 per barel.

Untuk saat ini, belum ada kesepakatan final yang memastikan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Iran dan Oman masih membahas pengaturan jalur pelayaran, sementara Tehran mempertahankan tuntutan politik dan ekonomi terhadap Washington. Amerika Serikat, di sisi lain, menghadapi tuntutan baru dari Trump agar Iran membayar kompensasi atas korban dan kerusakan yang menurutnya terkait dengan tindakan Iran selama puluhan tahun.

Dengan kedua pihak kini mengajukan tuntutan kompensasi yang berlawanan, persoalan reparasi berpotensi menjadi salah satu hambatan baru bagi penyelesaian konflik. Perkembangan pembicaraan Oman-Iran menjadi indikator terdekat apakah lalu lintas kapal dapat kembali normal.

Namun, sampai Selasa (11/8), pernyataan politik tentang kemajuan negosiasi belum diikuti kesepakatan final yang mengembalikan pelayaran Hormuz ke tingkat sebelum perang.

(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *