TNI Angkatan Laut Ingatkan Betapa Pentingnya Penguasaan Teknologi dan Serangan Digital

Kabarindo24jam.com | Jakarta – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) membedah strategi tempur masa depan di hadapan para perwira siswa. Dalam pembekalannya, Asisten Operasi (Asops) Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksda Yayan Sofiyan menekankan pentingnya penguasaan teknologi untuk melumpuhkan sistem navigasi serta komunikasi lawan melalui serangan digital.

Kehadiran Laksda Yayan yang mewakili KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali di Bumi Cipulir markas Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Wadan Seskoal) ini bertujuan mematangkan konsep wargame (simulasi perang) bagi perwira siswa pendidikan reguler Seskoal angkatan ke-65.

Bacaan Lainnya

Laksda Yayan menginstruksikan para calon pimpinan TNI AL agar tidak hanya terpaku pada pola pertempuran konvensional atau tradisional. Ia memaparkan empat pilar peperangan modern yang wajib dikuasai, yakni seabed warfare (peperangan dasar laut), information warfare (peperangan informasi), cyber warfare (peperangan siber), dan psychological warfare (peperangan psikologis).

“Pasis Seskoal harus mampu mengimplementasikan cyber warfare dengan mempertahankan jaringan internal kita dari peretasan. Di sisi lain, kalian harus bisa mengganggu sistem navigasi dan komunikasi kekuatan musuh melalui serangan siber,” tegas Yayan dalam keterangan Penerangan Seskoal yang dikutip, Senin (11/5/2026).

Selain aspek digital, Yayan juga menyoroti pentingnya menjaga kedaulatan di bawah permukaan air melalui seabed warfare. Strategi ini mencakup perlindungan infrastruktur vital bawah laut dengan menanamkan sensor-sensor canggih di dasar samudera guna mendeteksi ancaman sejak dini.

Terkait aspek mental, Asops KSAL meminta para perwira piawai merancang operasi psikologis. Strategi ini bertujuan melakukan demoralisasi atau meruntuhkan mental dan semangat juang musuh melalui pesan-pesan strategis yang terukur.

“Kita juga harus mengintegrasikan intelijen real-time (berkala) dan manajemen data yang akurat. Gunakan taktik disinformasi atau penyebaran informasi keliru untuk menyesatkan strategi musuh,” tambahnya menjelaskan konsep peperangan informasi.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya TNI AL dalam mencetak prajurit yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui simulasi tempur yang komprehensif, para perwira diharapkan siap menjaga kedaulatan NKRI di tengah kompleksitas ancaman global yang semakin canggih. (Cok/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *