Rupiah Melemah ke Kisaran Rp 17.513 Perdolar AS, BI Sebut Faktor Global dan Domestik

Kabarindo24jam.com | Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini dan sempat bergerak di kisaran Rp17.550 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menjadi sorotan pasar karena mendekati level terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Bank Indonesia menyatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

Faktor eksternal yang dominan antara lain penguatan dolar AS akibat kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat, meningkatnya ketegangan geopolitik global, serta perpindahan arus modal ke aset yang dianggap lebih aman.

Bacaan Lainnya

Selain itu, meningkatnya permintaan dolar AS di pasar domestik untuk kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri juga disebut turut memberi tekanan terhadap mata uang rupiah.

Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing, termasuk pasar spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF), guna menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Meski rupiah mengalami pelemahan signifikan, sejumlah indikator ekonomi domestik dinilai masih relatif terjaga. Cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang dinilai memadai untuk mendukung stabilitas eksternal dan pembiayaan impor nasional.

Inflasi nasional juga masih berada dalam rentang sasaran pemerintah dan bank sentral.
Namun demikian, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor barang dan bahan baku industri,

terutama sektor yang bergantung pada transaksi dolar AS. Kondisi tersebut juga dapat berdampak terhadap beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta apabila pelemahan berlangsung dalam jangka panjang.
Pelaku pasar saat ini turut mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan konflik geopolitik global, serta langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.

Hingga saat ini, pemerintah dan otoritas moneter belum menyatakan kondisi ekonomi Indonesia berada dalam situasi krisis, namun terus melakukan pemantauan terhadap dinamika pasar keuangan global dan domestik.
Sumber: Bank Indonesia, data perdagangan pasar valuta asing.

 

(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *