Demo Reformasi Pendidikan di Brussels Berujung Bentrokan, Polisi Lepaskan Gas Air Mata

Kabarindo24jam.com | Brussels, Belgia– Aksi demonstrasi menentang reformasi pendidikan di Brussels, Belgia, pada Kamis (4/6), berujung bentrokan antara sebagian pengunjuk rasa dan aparat kepolisian di pusat kota. Polisi dilaporkan menggunakan gas air mata setelah situasi di sekitar kawasan pusat transportasi kota memanas.

Kerumunan massa turun ke jalan untuk menolak sejumlah kebijakan yang diusulkan pemerintah Komunitas Prancis Belgia, termasuk rencana kenaikan biaya pendidikan tinggi serta perubahan aturan kerja bagi tenaga pengajar.

Bacaan Lainnya

Aksi yang awalnya berlangsung sebagai demonstrasi penolakan reformasi berkembang menjadi kericuhan di sejumlah titik pusat kota.

Di area sekitar Stasiun Pusat Brussels, sejumlah fasilitas publik mengalami kerusakan. Jendela bangunan dilaporkan pecah, sementara beberapa sepeda dan rambu lalu lintas mengalami vandalisme.

Aparat keamanan kemudian mengimbau masyarakat untuk menghindari kawasan tersebut selama operasi pengamanan berlangsung.
Pemerintah Komunitas Prancis Belgia berencana menaikkan biaya kuliah tahunan bagi sebagian besar mahasiswa dari 835 euro menjadi 1.194 euro. Kenaikan tersebut setara sekitar 35 persen dan disebut sebagai bagian dari langkah penghematan anggaran.

Selain itu, reformasi juga mencakup penambahan jam mengajar bagi sebagian guru sekolah menengah tanpa tambahan kompensasi serta perubahan aturan terkait status kepegawaian tenaga pendidik.

Kelompok mahasiswa dan serikat guru menilai kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan beban biaya pendidikan sekaligus memperburuk kondisi kerja tenaga pengajar.

Sementara itu, pemerintah mempertahankan kebijakan tersebut dengan alasan perlunya penyesuaian anggaran untuk menjaga keberlanjutan sektor pendidikan di tengah tekanan fiskal yang sedang dihadapi.

Pemerintah menyebut wilayah Komunitas Prancis Belgia diperkirakan menghadapi defisit anggaran sekitar 1,9 miliar euro.
Aksi serupa juga berlangsung di sejumlah kota berbahasa Prancis lainnya.
Seperti Namur dan Charleroi.

Demonstrasi di kedua kota tersebut berlangsung relatif lebih tenang dibandingkan situasi di Brussels.
(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *