Kabarindo24jam.com | Seoul – Nama Kim Du-han (1918–1972) hingga kini masih menjadi salah satu tokoh paling dikenal dalam sejarah modern Korea Selatan. Sosoknya dikenang sebagai pemimpin kelompok jalanan (gangster) Korea pada masa pendudukan Jepang sekaligus figur kontroversial yang kemudian beralih menjadi politikus setelah Korea merdeka.
Kisah hidupnya telah menginspirasi berbagai film, serial televisi, hingga buku sejarah populer, termasuk trilogi film The General’s Son (Janggun-ui Adeul) yang memperkenalkan kembali perjalanan hidup Kim Du-han kepada generasi baru.
Masa Kecil yang Penuh Kesulitan
Kim Du-han lahir di Seoul pada 15 Mei 1918 ketika Semenanjung Korea berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Jepang. Ia diyakini merupakan putra pejuang kemerdekaan Korea, Kim Jwa-jin, meski hubungan tersebut masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan.
Ayahnya gugur ketika Kim Du-han masih kecil sehingga ia tumbuh dalam kondisi serba kekurangan.
Tanpa kehidupan keluarga yang stabil, Kim Du-han menghabiskan masa kecil sebagai anak jalanan di kawasan Jongno, Seoul. Kehidupan keras di jalan membuatnya belajar bertahan hidup dan mengenal dunia kelompok-kelompok pemuda yang menguasai sejumlah wilayah kota.
Bangkit Menjadi Pemimpin Gangster Korea
Memasuki usia remaja, Kim Du-han mulai dikenal sebagai petarung yang memiliki kemampuan bela diri dan kepemimpinan. Ia kemudian memimpin kelompok jalanan Korea yang bersaing dengan kelompok gangster Jepang maupun organisasi yang bekerja sama dengan pemerintah kolonial.
Dalam berbagai catatan sejarah populer, bentrokan tersebut bukan hanya dipandang sebagai perebutan wilayah, tetapi juga dianggap memiliki nuansa perlawanan terhadap dominasi Jepang di ruang-ruang publik Seoul. Namun, sejumlah rincian mengenai duel maupun tokoh yang terlibat berasal dari kisah yang berkembang di masyarakat dan tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Dari Dunia Jalanan ke Dunia Politik
Setelah Korea memperoleh kemerdekaan pada 1945, Kim Du-han perlahan meninggalkan kehidupan sebagai pemimpin kelompok jalanan.
Ia aktif dalam gerakan antikomunis sebelum akhirnya memasuki dunia politik nasional. Kim Du-han terpilih sebagai anggota Majelis Nasional Korea Selatan pada periode 1954–1958 dan kembali terpilih melalui pemilihan sela pada 1965.
Karier politiknya diwarnai berbagai kontroversi. Salah satu peristiwa yang paling dikenang adalah insiden pelemparan kotoran ke arah anggota kabinet dalam sidang parlemen pada 1966 sebagai bentuk protes terhadap dugaan penyelundupan gula.
Peristiwa tersebut membuatnya dipenjara dan akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai anggota parlemen.
Diangkat ke Film dan Drama
Popularitas Kim Du-han terus bertahan selama beberapa dekade.
Kisah hidupnya diangkat ke layar lebar melalui film The General’s Son (1990) beserta dua sekuelnya. Film tersebut menggambarkan perjalanan Kim Du-han dari anak jalanan hingga menjadi pemimpin kelompok Korea yang berhadapan dengan gangster Jepang pada masa pendudukan.
Selain film, berbagai drama televisi Korea juga mengadaptasi perjalanan hidupnya dengan pendekatan dramatik yang memadukan fakta sejarah dan unsur fiksi.
Akhir Hayat
Setelah tidak lagi aktif di dunia politik, Kim Du-han menjalani kehidupan yang lebih tenang.
Ia meninggal dunia di Seoul pada 21 November 1972 dalam usia 54 tahun. Sejumlah sumber menyebut penyebab kematiannya berkaitan dengan komplikasi hipertensi yang memicu gangguan kesehatan serius.
Warisan Sejarah
Lebih dari lima dekade setelah wafatnya, Kim Du-han tetap menjadi figur yang memunculkan beragam penilaian.
Sebagian masyarakat Korea Selatan mengenangnya sebagai simbol keberanian kelompok lokal yang menentang dominasi gangster Jepang pada masa kolonial.
Di sisi lain, para sejarawan juga menekankan bahwa kehidupannya tidak lepas dari dunia kriminal dan kontroversi politik sehingga warisannya perlu dipahami secara utuh berdasarkan konteks sejarah.
Terlepas dari berbagai perdebatan tersebut, Kim Du-han masih menjadi salah satu tokoh paling ikonik dalam sejarah populer Korea Selatan, dengan kisah hidup yang terus dikenang melalui film, drama, dan berbagai karya sejarah hingga saat ini.
(Ls/*)







