Kabarindo24jam.com | BELITUNG TIMUR – Aksi penyampaian aspirasi ratusan hingga ribuan penambang timah di kawasan Kantor Unit Produksi dan Gudang Bijih Timah PT Timah Tbk di Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, pada Jumat (7/8), berujung ricuh dan menyebabkan sejumlah fasilitas perusahaan rusak serta bagian gedung terbakar.
Aksi tersebut dipicu keresahan penambang terkait tersendatnya penyerapan atau pembelian bijih timah hasil tambang masyarakat.
Para penambang meminta kepastian agar hasil tambang mereka kembali dapat dijual melalui mekanisme pembelian PT Timah.
Menurut laporan di lapangan, massa mendatangi kompleks PT Timah di Desa Lenggang pada Jumat. Ketegangan meningkat setelah massa belum mendapatkan pertemuan dengan pihak perusahaan.
Beberapa barang kemudian dibakar di area kompleks, sementara massa juga membakar ban dan melempari fasilitas gudang. Api dari barang yang dibakar kemudian merembet ke bagian gedung Kantor Unit PT Timah.
Petugas pemadam kebakaran kemudian melakukan pemadaman. Laporan media di lokasi menyebut kobaran api tidak sampai menghanguskan seluruh gedung dan dapat dikendalikan. Sejumlah fasilitas lain, termasuk pos penjagaan, pagar dan bagian gudang, dilaporkan mengalami kerusakan.
Sebuah kendaraan juga dilaporkan terdampak dalam aksi tersebut.
Pengamanan dilakukan oleh personel gabungan Polres Belitung Timur, Brimob, TNI dan unsur pengamanan lainnya. Kapolres Belitung Timur AKBP Husni Tamrin mengatakan aparat berupaya mencegah aksi berkembang menjadi kerusuhan yang lebih besar.
Setelah perwakilan perusahaan menemui massa, situasi kemudian dapat dikendalikan dan massa membubarkan diri.
Aksi berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah pembubaran massa, aparat gabungan memperkuat pengamanan di kawasan Kantor Unit dan gudang PT Timah.
Sebuah kendaraan water cannon juga dikerahkan untuk membantu memadamkan sisa api dari pembakaran ban di sekitar gudang.
PT Timah pada Jumat malam mengonfirmasi terjadinya aksi massa dan perusakan fasilitas perusahaan. Corporate Secretary PT Timah Ruddy Nursalam mengatakan perusahaan menghormati aspirasi masyarakat, tetapi menyesalkan tindakan perusakan yang menimbulkan kerugian.
Perusahaan mengaktifkan Emergency Response Plan, melakukan evakuasi personel dan pengamanan lokasi bersama aparat berwenang.
PT Timah memastikan seluruh karyawannya dalam kondisi aman dan menyatakan tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Perusahaan juga mengatakan kegiatan operasional di sebagian wilayah Belitung masih mengalami gangguan dan belum sepenuhnya kembali normal pada Jumat malam.
Persoalan tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Pada Juli, DPRD Belitung Timur telah mempertemukan pemerintah daerah, PT Timah dan perwakilan penambang untuk membahas rendahnya harga pembelian timah di tingkat penambang.
DPRD saat itu meminta PT Timah menghadirkan solusi konkret setelah muncul keluhan mengenai besarnya perbedaan antara harga pembelian di tingkat perusahaan dan harga yang diterima penambang.
Pada awal Agustus, sempat tercapai kesepakatan yang membuat rencana demonstrasi pada 5 Agustus dibatalkan.
Namun persoalan penyerapan dan mekanisme penjualan kembali memicu aksi pada 7 Agustus. Setelah aksi tersebut, laporan lokal menyebut adanya informasi bahwa bijih timah dengan kadar Sn72 akan kembali dibeli dengan harga sekitar Rp225.000 per kilogram. Massa kemudian membubarkan diri, tetapi memperingatkan akan kembali melakukan aksi apabila kesepakatan tersebut tidak dijalankan.
PT Timah menyatakan sebelumnya telah melakukan sejumlah pertemuan dengan perwakilan penambang dan kembali mengoperasikan sejumlah stasiun pengumpul di wilayah Belitung sebagai bagian dari upaya memperlancar tata niaga bijih timah yang legal, transparan dan akuntabel.
Perusahaan mengimbau seluruh pihak menjaga situasi tetap kondusif dan menyelesaikan persoalan melalui komunikasi serta dialog.
(Ls/*)







