Dua Generasi, Satu Misi: Putra Kembali ke Tanah Kelahiran Sang Ibu dalam Misi Pacific Partnership 2026

Kabarindo24jam.com | SIBOLGA, Indonesia – Lebih dari 20 tahun lalu, Dina Muralt, perempuan asal Medan, ditugaskan ke Indonesia di atas kapal rumah sakit USNS Mercy (T-AH 19) sebagai penerjemah. Ia hadir untuk mendukung upaya bantuan medis dalam respons Amerika Serikat terhadap bencana tsunami Boxing Day. Kini, putranya, Letnan Angkatan Laut AS MacSwayne Muralt, bertugas sebagai perwira penanggung jawab (officer in charge) untuk persinggahan misi Pacific Partnershipyang berlangsung di Indonesia pada 21-31 Juli 2026 ini—sebuah momen yang menurutnya terasa seolah semesta mendukungnya.

“Ada rasa bangga tersendiri dalam diri saya saat mengetahui bahwa saya mengikuti jejak [ibu saya],” ujar Muralt. Ia menambahkan bahwa sang ibu dulunya adalah seorang perwira di Korps Insinyur Sipil Angkatan Laut AS. “Ketika masih bertugas di Angkatan Laut, beliau terpilih sebagai personel tambahan dalam tahap respons awal penanganan tsunami Boxing Day.”

Bacaan Lainnya

Tsunami Boxing Day, yang kerap disebut sebagai Tsunami Samudra Pasifik 2004, terjadi ketika gempa bumi bermagnitudo 9,3 mengguncang lepas pantai Sumatera Utara pada 26 Desember 2004 dan meluluhlantakkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Respons kemanusiaan awal yang dilakukan di atas kapal USNS Mercy tersebut menjadi kerangka dasar sekaligus fondasi lahirnya misi tahunan Pacific Partnership—misi yang kini tengah didukung oleh MacSwayne Muralt di Indonesia.

“Ini sebuah kebetulan yang begitu bermakna, seolah membawa semuanya kembali ke titik awal (full-circle moment), bahwa saya berada di sini pada peringatan 20 tahun misi Pacific Partnership dan tepat setelah bencana mematikan tahun lalu di Indonesia,” ungkap Muralt.

Pada November 2025, sebuah siklon tropis ekuatorial melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Siklon tersebut memicu banjir dahsyat dan tanah longsor yang parah di wilayah-wilayah tersebut.

Selama misi Pacific Partnership berlangsung di Indonesia tahun ini, Muralt bertugas mengidentifikasi dan menangani berbagai kebutuhan serta kendala para personel tim misi saat mereka menjalankan serangkaian fokus kegiatan pendukung (lines of effort atau LOE). Kegiatan tersebut mencakup program kemitraan dengan negara tuan rumah, pelayanan kesehatan masyarakat, lokakarya manajemen bencana, serta proyek renovasi konstruksi di seluruh Sumatera Utara. Seluruh LOE ini dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan penanggulangan bencana guna meminimalkan dampak dari potensi bencana alam di masa mendatang.

“Sebagai perwira penanggung jawab di negara tujuan (country OIC), saya bertanggung jawab penuh untuk mendatangkan tim inti misi ke sini dan memastikan mereka memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan seluruh agenda kegiatan,” jelas Muralt. “Di Indonesia, kami memiliki tim teknik sipil untuk melakukan renovasi, tim kemitraan yang mengunjungi sejumlah sekolah, tim medis yang memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit setempat, serta tim manajemen bencana yang mengoordinasikan lokakarya dengan para petugas tanggap darurat tingkat nasional.”

Misi Pacific Partnership dirancang untuk memperkuat kapasitas kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di setiap negara peserta. Misi ini bertujuan memberdayakan kemampuan tiap negara dalam meningkatkan kapasitas regionalnya, sehingga setiap negara peserta dapat lebih siap dan memiliki perlengkapan yang memadai untuk merespons bencana alam maupun krisis lainnya secara efektif.

(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *