IRGC Umumkan Penutupan Selat Hormuz Hingga Waktu yang Belum Ditentukan, Ketegangan Kawasan Kian Meningkat

Kabarindo24jam.com | Teheran, 12 Juli 2026 – Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC Navy) Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. Pengumuman tersebut disampaikan pada Minggu (12/7) waktu setempat setelah insiden yang melibatkan sebuah kapal yang menurut otoritas Iran melintas melalui jalur yang tidak diizinkan.

Media pemerintah Iran melaporkan IRGC melepaskan tembakan peringatan terhadap kapal tersebut. Iran menyebut kapal itu memasuki rute yang tidak mendapat persetujuan dan menonaktifkan sistem pelacaknya, sehingga dinilai melanggar ketentuan keamanan maritim yang diterapkan oleh Tehran.

Bacaan Lainnya

Setelah insiden itu, IRGC mengumumkan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz dihentikan hingga pemberitahuan berikutnya.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Jalur ini menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional, sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global.

Di Washington, Amerika Serikat kembali mendesak Iran untuk menjamin kebebasan navigasi di seluruh jalur Selat Hormuz.

Pemerintah AS sebelumnya meminta Tehran menyatakan secara terbuka bahwa kapal-kapal dagang internasional dapat melintas tanpa gangguan. Namun, hingga pengumuman terbaru dari IRGC, belum terdapat kesepakatan mengenai mekanisme pelayaran yang dapat diterima kedua pihak.

Perkembangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir.

Beberapa laporan juga menyebutkan upaya diplomatik yang dimediasi Oman masih terus berlangsung guna mencegah eskalasi lebih luas, meski situasi di lapangan masih sangat dinamis.

Pengumuman penutupan Selat Hormuz segera memicu perhatian pelaku pasar energi internasional. Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu titik transit terpenting perdagangan minyak dunia sehingga setiap pembatasan pelayaran berpotensi meningkatkan biaya logistik, premi asuransi kapal, dan volatilitas harga energi di pasar global.

(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *